Akibat Sering Menulis Cerita Hantu 2

Huuuaaah!!! Akhirnya aku bisa menarik nafas lega setelah beberapa minggu sempat terpuruk dengan berbagai teror. Akibat sering menulis cerita hantu 2 ini sengaja aku tulis setelah berhasil melewati teror demi teror aku hadapi dengan rasa takut yang membara dan mengerutkan hatiku. Dari unsur ketidaksengajaan ternyata berdampak pada aktifitas sehari-hariku dan bahkan hampir merenggut nyawaku sendiri.

Bagaimana awal mula teror-teror itu terjadi silahkan baca akibat sering menulis cerita hantu.

Aku merasa hidup menjadi tak berarti saat menjalankan aktifitasku. Bagaimana tidak stress, bayangkan jika anda sedang berbaring kemudian saat membuka mata tiba-tiba ada sosok menyeramkan berada tepat satu jengkal di wajah anda. Dengan wajah pucat menyeramkan menatap tajam ke dalam mata anda. Coba Bayangkan juga anda sedang tidur pulas tiba-tiba kaki anda ditarik hingga terjatuh dari kasur anda. Bayangkan lagi anda sedang sendiri di kamar atau kos tapi merasa ada seseorang di belakang anda yang sedang mondar-mandir. Dan bisa anda bayangkan semua itu terjadi dalam kehidupan anda. Hidup menjadi tidak tenang dan selalu gelisah karena tidak ada waktu dan tempat untuk rileks.

Sudah berbagai cara aku lakukan namun tetap saja makhluk itu membandel mengikutiku. Hingga aku merasa putus asa dengan apa yang terjadi padaku. Bahkan beberapa hari yang lalu aku sempat depresi dan semua pekerjaanku dikantor berantakan dan alhasil aku kena semprot oleh atasan. Dan sempat juga aku hampir tertabrak kendaraan saat sedang menyebrang untuk makan siang. Dengan wajah penuh depresi aku melangkah tanpa melihat kiri dan kanan, untung ada temanku yang segera menarikku.

Ada sebuah kejadian yang aku alami dan aku rasa wajib diceritakan karena kejadian itu yang membuatku hidupku menjadi normal kembali. Beberapa hari yang lalu wajahku memang tampak depresi dan pucat kelelahan karena kurang tidur. Dan memang benar aku sulit tidur karena terus diganggu. “kenapa muka lo kaya nahan kentut gitu?” Tanya mas edy. “lo tahu lah mas, kenapa gue kayak gini” jawabku. “Iya dia nempel banget sama lo” jawab mas edy yang merasa kasihan padaku. “Gue kemaren konsul sama temen gue, katanya makhluk kayak gitu bisa di lawan dengan makhluk lain yang menhuni rumah kita” kata mas edy. “maksudnya gimana mas?” tanya ku. “udah biar gue yang urus” jawab mas edy yang langsung pergi.

Aku masih tidak mengerti apa yang mas edy maksud dan aku pun sudah tidak bisa berpikir apa-apa saat itu.

Aku sibuk mengurus pekerjaanku yang sedikit-sedikit tetap risih dengan gangguan-gangguan kecil seperti barang-barang di mejaku yang bergerak atau jatuh sendiri secara berulang kali. Aku benar-benar merasa sendiri saat itu karena masalah gangguan ini mebuatku semua orang menjauhiku. Dan bahkan si merah dan si buntung yang sering muncul pun sudah tak aku lihat lagi. Ada apa ini? aku sendiri pun tak mengerti. Jauh hari sebelum kekacauan ini terjadi aku pernah melihat penampakan si merah yang berdiri di ujung lorong namun ia sangat jauh dan tidak ada tanda-tanda akan mendekat. Setelah kejadian itu, si merah tidak pernah menampakan wujudnya lagi.

Waktu berlalu dengan sangat lama, dan saat itu telah menunjukan jam 6 yang berarti telah satu jam yang lalu waktu pulang. Aku tetap duduk melanjutkan pekerjaanku yang akhir-akhir ini sulit aku kerjakan dengan cepat karena gangguan-gangguan yang aku alami. “kriiiing…kriing…” suara telepon berdering. “Halo..” jawabku. “lo kesini deh” jawab mas edy melalui telepon. Aku segera menutup telepon dan menuju cubical tim audit. Dengan langkah terseok-seok aku berjalan dengan ekspresi datar di wajahku. “ada apa mas?” tanyaku. “Udah lo duduk aja disitu” kata mas edy. Aku segera duduk dan terdiam tanpa ingin tahu ada apa sebenarnya.

Mas edy dengan wajahnya yang serius langsung menunduk seperti sedang mengheningkan cipta pada saat upacara bendera. Di cubical itu ada kami berempat, dan sepertinya adit dan arif telah tahu apa yang akan di lakukan oleh mas edy. Mereka berdua duduk terdiam dengan wajah ketakutan namun mencoba menyembunyikan itu dariku. “yang nempel di badan lo itu memang kuat sekali, makanya si merah dan si buntung menjauh” kata mas edy. “”ohh pantesan mengapa mereka tidak pernah muncul lagi” gumamku dalam hati. “ jadi gimana mas?” tanyaku. “tenang…” jawab mas edy.

“Bruaaaakkkk” sebuah kardus yang berisi dokumen jaduh berserakan. “arrhhhkkk” sontak teriak arif yang kaget. “bro, cuma ini yang bisa kita lakukan sekarang buat ngusir setan yang ngikutin lo. Tapi lo harus siap ketemu mereka beberapa hari kedepan kemungkinan” kata mas edy. “apa pun akan saya ambil resikonya mas, yang penting dia pergi. Kalau ketemu sosoknya hampir tiap hari aku alami” jawabku dengan ngotot.

Mas edy segera melanjutkan kegiatan ritualnya, “lo kok kayak dukun mas” tanya aku dengan polos. “Ssst…bukan dukun tapi paranormal” jawab mas edy seketika. “widih gilaaa..paranormal. kaki di atas kepala di bawah dong” kata arif menyambar pembicaraan kami. “Itu di atas normal lagunya peterpan kali” jawab adit. “Ssst..berisik lo berdua. Gue kutuk lo jadi kutu kupret mau?” jawab mas edy. Tampak wajah arif cengengesan mengandung yang sejuta makna.

Tak lama aku merasa badanku menjadi panas dan terus menjadi semakin panas. Dari kegelapan tampak berdiri sosok seperti wanita dan ia berjalan menuju ke arah ku. Semakin lama sosok itu semakin mendekatiku, dan perlahan terlihat seluruh dirinya, sosok itu adalah si merah. Ia berjalan mendekatiku dan berhenti tepat di depanku. Ia memandangiku dengan tatapan kosong dan terlihat tanpa ekspresi di wajahnya. Wajahnya yang pucat dan salah satu matanya keluar cukup membuat kakiku gemetar menatapnya sedekat itu. terlihat juga arif dan adit yang ketakutan, mereka menutup wajah mereka dengan jaket dan tangan mereka.

“Hihihihihi” si merah tertawa dengan melengking kemudian seketika itu terbang ke kembali ke dalam gelap dan menghilang. “braaaakkk…Praaang…” beberapa barang berjatuhan yang aku sendiri tidak tahu mengapa. “ayo kita pulang” kata mas edy mengajak. “Sudah selesai mas?” tanyaku. “mereka sedang berkelahi, kita tinggalkan aja” ujar mas edy. Tanpa komentar apa pun kami semua segera meninggalkan ruangan itu dan kembali pulang. Badanku lumayan terasa enteng saat itu dan pikiranku sedikit jernih. “ada apa sebenarnya mas?” tanyaku penasaran saat sedang di lift. “tadi gue coba berkomunikasi sama si merah, ya intinya gue panas-panasin gitu kalau di daerah kekuasaannya ada yang mengganggu tapi kok dia diam aja” jawab mas edy. “ oh bisa juga ya panas-panasin si merah?” tanyaku aneh. “Nah itu buktinya lagi berantem mereka” ujar mas edy.

“Sosok yang ngikutin lo itu memang kuat jadi si merah juga takut gitu makanya dia menghilang. Tapi tadi gue coba komunikasi gitu ya dia sebenarnya marah ada sosok lain” uajr mas edy. “kayak hantu kakek-kakek dulu ya (baca : Teror Berantai 3)” ujarku. “ya seperti itulah” jawab mas edy.

Singkat cerita, aku telah sampai di kosan. Badanku memang terasa enteng dan benar-benar tenang sekali aku saat itu. Tidak seperti biasanya, perasaan selalu tidak tenang dan selalu saja ada gangguan. Aku berbaring sejenak merasakan rileksnya badanku, dan saat aku membuka mata tiba-tiba aku cukup kaget namun sedikit senang. Sosok kuntilanak merah berdiri di pojok kosan ku. Dia menatapku dan terlihat ia tersenyum kemudian tertawa ngikik “hihihihi”. Pintu kosanku saat itu memang terbuka, si merah yang tertawa ngikik kemudian keluar  melewati pintu kosan dan menghilang.

Sejak saat itu hidupku seperti kembali normal, dan bisa fokus sepenuhnya menyelesaikan tugas-tugasku. Aku tidak tahu apa yang terjadi, namun aku merasa sosok yang mengikutiku itu telah pergi entah kemana.setelah kejadian hari itu, si merah dan si buntung mulai terlihat menampakan diri dengan kejahilannya di ruanganku. Menurutku ini seperti kejadian yang tidak masuk akal dan aneh untuk diceritakan, namun memang begitu adanya yang aku alami. Cara mengusir hantu yang mengikuti diriku ini memang cukup unik. Namun semoga kejadian ini semakin menguatkan iman ku pada Tuhan dan pembaca blog ini khusunya.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.