Bulu Kuduk Anda Akan Berdiri Seperti Durian Jika Membaca Pengalaman Ini!

“Fiuuuh….” Ia menghembuskan nafas yang menyesakkan dadanya.

Aku melihat matanya terbelalak seolah-olah sedang memeluk rasa takut.

Ia terdiam sejenak sebelum akhirnya memberanikan diri untuk bercerita…

Sebelumnya perkenalkan sahabatku ini bernama Ariza. Ia pernah mengalami hal luar biasa yang membuat dirinya sangat shock.

Ia sangat ketakutan sekali untuk mengingat kejadian itu, namun karena sedikit paksaan dariku akhirnya ia mau menceritakannya.

Saat itu kantor kami sedang ada acara kebersamaan. Dan kebetulan aku dan ariza beserta dua temanku yang lainnya kebagian satu kamar hotel.

Aku tidak pernah mengalami kejadian yang dialaminya. Namun rasa takut yang ada dalam cerita ariza secara perlahan mulai menular padaku. Cerita yang ia tuturkan itu sangat mengerikan dan membuat bulu kudukku merinding.

Dengan berat dan penuh ketakutan ia mencoba untuk menceritakannnya.

“Saat itu aku masih kecil, kalau tidak salah umurku sekitar 8 tahunan.” Ariza memulai ceritanya dengan nada yang lemah.

“Kebetulan kedua orangtuaku saat itu ada kegiatan di gereja. awalnya mereka mau menitipkanku di rumah sepupuku agar aku tidak sendirian.” Ujar ariza dengan sesekali menarik nafas panjang.

Baca Juga :

Pengalaman Yang Tak Diharapkan

“Tapi karena sepupuku sedang tidak ada di rumah jadi aku memutuskan untuk diam di rumah saja. Setelah beberapa saat beradu argumen dengan ibuku yang tidak mau anaknya sendirian, akhirnya ia mengikuti kemauanku itu.” Sambung ariza dengan pandangan mata yang mencoba mengingat-ingat kejadian itu.

Sekedar informasi bahwa saat itu sudah pukul 3 pagi dan sangat terasa angin malam mulai menusuk kulitku dengan hembusan dinginnya. Aku mencoba menutupi diriku dengan selimut tetapi selimut itu tidak dapat menahan hembusan dinginnya yang tajam bagaikan jarum.

Sambil menarik selimut dan sedikit menggigil kedinginan, Ariza pun mulai melanjutkan ceritanya.

“Aku sendirian saat itu di rumah. Karena tidak ada teman main, akhirnya aku memutuskan untuk tidur di kamarku.” Ujar ariza mengenang pengalamannya.

“oh ya, rumahku itu sangat unik. Dari kamarku sampai dapur pintunya searah, jadi kalau keluar dari kamarku dan jalan lurus melewati pintu-pintu ruangan itu mentoknya pasti di dapur rumahku. Ngerti gak? Tanya Ariza menjelaskan tentang rumahnya.

Aku hanya mengangguk dan membayangkan sketsa rumahnya di pikiranku.

Setelah sekian detik aku berpikir, akhirnya aku memahaminya kalau seluruh pintu ruangan rumahnya itu terletak di tengah dan semua pintu ruangannya sejajar. Dan kalau ditarik garis lurus, maka dari kamar ariza bisa langsung ke dapur melewati pintu-pintu setiap ruangan.

“Fiuhhh…OK I See. Lanjut bro!” Ujarku yang mulai penasaran dengan ceritanya.

“Nah aku saat itu tidur di kamarku yang kebetulan pintunya dan pintu ruangan lainnya terbuka sehingga aku bisa melihat ke dapur langsung.” Ujar Ariza.

“Saat itu aku tertidur sangat pulas, tapi tiba-tiba aku terbangun karena suara petir yang membuatku kaget.” Ariza terdiam sejenak dan menarik nafas dalam-dalam.

“Entah kenapa saat terbangun itu aku ingin sekali menoleh ke arah dapur.” Ariza kembali terdiam dan mendekatkan badannya padaku.

“Aku jadi merinding  nih” ujar ariza yang menarik selimutnya sampai di bawah dagu.

Aku juga mulai merasakan bulu tanganku merinding. Aku sangat penasaran dengan kelanjutan ceritanya itu memaksanya untuk bercerita lagi.

“Terus gimana bro?” Ujarku penuh penasaran.

“Iya, aku gak tau kenapa saat itu pengen sekali menoleh ke arah dapur” jawab ariza sambil menggeser badannya lebih dekat padaku.

“Waktu aku menoleh, seketika itu badanku tiba-tiba kaku dan terpaku. Di dapur aku lihat ada Jumping Candy sedang loncat-loncat tapi melayang tidak menyentuh tanah. Tahu gak Jumping Candy?” Tanya ariza sambil melirik padaku dengan pandangan yang penuh misteri.

“Apa itu?” tanyaku.

“POCONG!” jawab ariza dengan nada yang agak keras.

“Ohh..pocong?” ujarku dengan tenang.

“Iya Pocong! Pocong itu beda banget dengan yang ada di film-film.” Ujar ariza dengan nafas yang tersengal-sengal.

bulu kuduk berdiri karena pengalaman seramku

 

“Pocong itu berdiri di ujung pintu dapur. Dia melayang-layang tidak menyentuh lantai. Semakin lama semakin dekat ke arahku!” Ujar ariza yang berusaha menenangkan dirinya yang sudah sangat ketakutan.

“terus gimana? Tanyaku yang sudah sangat penasaran sekali.

“Pokoknya pocong itu beda dengan di film-film yang wajahnya hitam atau pucat gitu. Pocong yang aku lihat itu wajahnya sangat hancur berdarah-darah dan menjijikan sekali penuh belatung. Mirip banget seperti bangkai tikus yang mati hancur terlindas mobil dan dibiarkan membusuk sampai berlama-lama.

Aku terdiam dan membayangkan sejenak sosok pocong yang dijelaskan oleh ariza.

“WOW! Cukup mengerikan sekali kalau bertemu sosok hantu seperti itu” ucapku dalam hati.

“Pocong itu semakin dekat ke arahku. Aku berusaha berdiri sekuat tenaga dan  berlari ke arah pintu untuk segera keluar” ujar ariza melanjutkan ceritanya.

“Tapi pintu rumah waktu itu dikunci sama ibuku jadi aku gak bisa keluar. Aku berusaha teriak dan menggedor-gedor pintu sekuat tenaga tetapi tidak ada seorang pun yang datang.” Ariza menceritakan dengan nafas yang tersengal-sengal.

“Tiba-tiba aku melihat ada orang yang lewat depan rumahku. Aku berusaha berteriak dan menggedor-gedor pintu lebih keras lagi tetapi orang yang melintas itu tidak mendengar. Mungkin karena di luar hujan sehingga ia tidak bisa mendengarnya.” Ujar Ariza dengan nada yang terdengar pasrah.

“Suasana rumahku saat itu sangat mencekam. Aku meronta-ronta dan menangis sekeras mungkin karena sangat ketakutan sekali. Dan ketika aku menoleh ke belakang, jantungku tiba-tiba seperti berhenti. Pocong itu berdiri tepat di belakangku dan melotot padaku dengan sangat menyeramkan.” Ujar Ariza sambil memejamkan mata dan meremas selimut yang menutupi tubuhnya.

“Aku sangat ketakutan sekali dan jongkok sambil menutup mata saat itu” Sambung Ariza.

“Menurut Ibuku, Ia merasa tidak enak hati saat sedang di gereja jadi ia memutuskan untuk pulang duluan. Sambil membuka pintu, ibuku memanggil-manggil namaku dengan khawatir “Za..Za..Za..”

“Setelah pintu terbuka, aku segera berlari dan memeluk ibuku seerat mungkin sambil menangis sejadi-jadinya. Aku menceritakan semua kejadian yang aku alami dan ibuku hanya berkata “udah gak apa-apa.”

Catatan : Pengalaman cerita hantu ini diceritakan langsung oleh Ariza. Simak terus terus blog ini dan pastikan anda tidak ketinggalan pengalaman seram lainnya dari Ariza. Jika ingin berbagi pengalaman seram dalam hidup anda, silahkan kirim cerita anda melalui form kirim cerita.

3 comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.