Gara-Gara Diganggu Hantu Pocong 3

Apa kabar pembaca setia blog pengalamanseram.com??? Kali ini aku ingin melanjutkan pengalamanku sebelumnya saat dinas di Kalimantan yaitu Gara-gara diganggu hantu pocong 3. Bagi yang belum menyimak cerita sebelumnya silahkan klik Gara-gara diganggu hantu pocong 1 dan Gara-gara diganggu hantu pocong 2. Oke guys tanpa basa-basi, kita langsung aja to the story…

Tampak wajah tegang di antara adit dan arif, termasuk aku juga sih. Kecuali mas edy yang wajahnya datar tanpa ekspresi. Kami pun bersiap-siap (mental dan tenaga) menghadapi hari yang semakin gelap. “bakal seru malam ini kayaknya” ujar mas edy. “huss..apa-apaan bapak ini” ujar arif.

Kami semua berbaring sejenak di kursi melepaskan lelah sambil memegang HP hanya untuk mengecek sms ataupun melihat foto-foto. Karena lokasi kami cukup jauh ke dalam hutan sehingga untuk mengakses internet  serasa membuat kami perlahan-lahan kembali ke jaman batu (internet sangat lemot).

Kami semua berbaring kecuali mas edy yang telah terlelap dang meninggalkan suara khas nya “ngroook..ngrroook…”. Tidak ada satu pun dari kami yang beranjak untuk mandi padahal suhunya sedang panas. Entah takut atau malas, saat itu kami hanya ingin bersantai sambil menunggu malam menjelang.

“Sore pak, ini makanannya” ujar seorang ibu-ibu yang tiba-tiba datang entah darimana membawa rantang makanan yang membuat kaget dan mengguncang perut kami. “Iya bu makasih” ujar arif. “Ayo makan” ajak adit. “Itu pak edy dibangunin dulu” pinta arif. “Biarin aja, ntar kita sisain aja tuh kepala ikan” jawabku yang kebetulan melihat lauknya adalah Ikan goreng yang cukup besar.

“Ngrook..eh enak aja gue disisain kepala ikan doang” sambung mas edy segera bangun dan mengambil piring. “Wuiihh..kok bisa gitu yaa, lagi ngorok tiba-tiba bangun ngambil piring” ujar adit kebingungan dengan tingkah mas edy. “Kan cuma mata yang merem, hidung sama telinga kan nggak” jawab mas edy. “Hahahaha…arif tertawa ngakak melihat tingkah atasannya itu.

Kami menyantap makanan itu dengan lahap, enak tidak enak harus enak karena makanan itu satu-satunya sumber energi kami. Sekedar informasi bahwa tidak ada tukang bakso atau tukang nasi goreng yang mau masuk ke hutan ini hanya demi perut kami berempat.

Selesai makan, aku dan mas edy kembali berbaringan sambil mengelus perut buncit kami yang kekenyangan. Arif pun mulai menggelar kasur dan bersiap-siap untuk tidur. Kami semua masih tidak mau tidur di kamar dan memilih tidur bersama di ruang tengah.

Tak terasa waktu sudah menunjukan sekitar pukul 8 dan mas edy beserta arif sudah pergi ke hawai di dalam mimpinya. Aku dan adit masih berbaringan mengutak-atik gadget kami. Dan tiba-tiba “treeeng..” terdengar bunyi perkakas di dapur. Aku dan adit pun terdiam dan cuek dengan suara itu.

“ngeeeeek….” tiba-tiba pintu kamar di depanku bergerak membuka sedikit. Aku hanya terpaku memandang pintu itu dan terlihat tidak ada seorang pun yang membukanya. Jujur saja, jantungku saat itu sudah berdebar ketakutan.

Perlahan aku bergeser mendekati mas edy sambil menutup mata dan menyimpan gadgetku. Melihat aku yang seperti itu, adit pun mengikuti dan bergeser mendekati arif. “Braaaakk…” terdengar suara pintu itu seperti dibanting.

gara-gara diganggu hantu pocong 3

Jantungku semakin berdebar karena sangat ketakutan. Tanpa sadar tanganku memeluk mas edy dan kepalaku bersembunyi dibalik punggungnya. Saat itu aku sangat tersiksa sekali oleh situasi dan keadaan. Dimana aku merasa ketakutan dan harus menahan nafas karena badan mas edy yang sangat bau oleh keringatnya.

“Bluk..bluk..bluk..” terdengar suara orang yang sedang melompat-lompat di sekitar kami. Aku semakin erat memeluk mas edy dan tiba-tiba mas edy berbalik memelukku. Kami saat itu tidur saling berhadapan dan saling berpelukan.

Wajahku tepat bersembunyi di bagian keleknya. Sumpah, saat itu aku berharap untuk pingsan karena terkena bius dari bau kelek mas edy yang keringatan namun belum mandi. Namun apa daya, aku tidak pingsan dan tetap sadar menikmati kesengsaraan ini. “Tuhan, tak apalah hantu ini mengganggu kami tapi setidaknya harumkanlah badan mas edy ini” tidak sadar aku melantunkan doa itu dalam hati.

Belum selesai aku beradaptasi dengan aroma mas edy, tiba-tiba tercium aroma bau bangkai seperti malam kemaren. “Oh Tuhan, cobaan ini sangat berat” gumamku dalam hati. Dan kali ini bau bangkai itu semakin kental baunya, seperti ada bangkai di tengah-tengah kami.

Jujur saja setelah mencium bau bangkai itu, aku tidak mencium lagi bau badan mas edy. Mungkin bau badannya mas edy langsung mengungsi karena tidak kuat dengan bau bangkai itu. Seperti kata seorang ilmuwan, “sakit dihilangkan dengan sakit, bunyi ditenangkan dengan bunyi, dan bau dinetralisir dengan bau”.

Tiba-tiba aku merasa sangat sempit, dan ternyata adit dan arif juga memeluk mas edy dengan erat karena ketakutan. Dan tiba-tiba ada sesuatu yang jatuh di atas badan kami. aku ingin sekali berteriak tapi tidak bisa. Dan bau bangkai itu sangat-sangat semakin menyengat.

Hantu pocong itu sedang menimpa kami yang sedang sangat ketakutan dan saling berpelukan. Entah air darimana, tiba-tiba aku merasa bagian paha hingga kakiku terasa seperti meniduri kasur yang basah.

“eeergggggg….” terdengar suara mas edy yang mengerang seperti emosi. Dan seketika itu kami tidak merasakan lagi ada yang menindih badan kami. dan seketika itu mas edy bangun dan berdiri. Aku pun menyusul untuk berdiri dan melihat sekeliling ternyata tidak ada siapa-siapa dan bau bangkai itu telah lenyap.

Aku melihat ke kasur, arif yang sedang berbaring sambil menangis ketakutan. Sedangkan adit juga berbaring sambil memeluk arif. “Ayo bangun” ujar mas edy dengan wajahnya yang tampak emosi. Terlihat celana arif dan adit yang basah (mereka berdua mengompol karena ketakutan).

“Mana itu pocong, gue jadiin lemper bakar dia” ujar mas edy dengan emosi. Dan seketika itu tercium selewat bau bangkai namun menghilang lagi. Mencium bau itu mas edy pun bergegas menuju dapur sambil berkata “hei pocong keluar kau, gue semprotin parfum juga lo”.

Zeeeeppp…seketika kami terdiam saat itu. dan aku memandang ke arah arif dan adit tanpa kata-kata kami bertiga sontak tertawa terbahak-bahak “HAHAHAHAHAHAHA…”. Arif yang tadinya menangis tersedu-sedu karena ketakutan pun menjadi tertawa sambil tetap mengeluarkan air matanya.

“Kenapa kalian ketawa?” tanya mas edy penasara. “Sebelum semprot parfum ke tuh pocong, semprot dulu ke badan mas edy” ujarku. Dia pun terdiam dengan muka cemberut. “tapi kalian suka kan, sampai meluknya erat gitu?” ujar mas edy. Kali ini kami bertiga yang terdiam dengan wajah kecut dan mas edy tertawa dengan keras “HAHAHAHA…”

Malam itu ketakutan kami tiba-tiba menghilang dan mahluk pocong yang bau itu tidak memunculkan dirinya lagi. Dan kami pun bisa berbaring sejenak menunggu pagi dan bersiap untuk kembali ke jakarta.

Ini merupakan pengalaman yang sulit kami lupakan. Dan selama perjalanan pulang hingga di kantor kami terus membahasnya. Bukan masalah pocong itu yang kami bahas, tapi bau badan mas edy yang bikin kami mabuk kepayang yang kami bahas.

One comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.