Kejutan Dari Sibuntung

“Hah..hah..hah..ada hantu tanpa kepala pak serem” kata arif sambil ngos-ngosan berlari ke arah kami. Siang itu kami sedang mengobrol mengisi waktu istirahat. “Aah paling itu perasaan lo aja rif” jawab ane mengabaikan arif. “Beneran pak saya gak bohong” sambung arif mencoba meyakinkan kami. “Udah biarin aja…cepet makan habis itu buatin kami kopi” kata mas edy dengan sikap yang sok ngeboss.

“Dit anter yuk buat kopi” pinta arif setelah menyelesaikan makan nya. “Sendiri aja lah, deket situ aja harus dianterin” jawab adit. Pantri ruangan kami memang letaknya di luar di ujung lorong dekat pintu darurat dengan penerangan yang kurang terang. “Udah cepetan sana, gak usah takut” kata ane. “Nih lo bawa keresek, kalo ada sibuntung lo keresekin aja kepalanya kalo jatuh. Lumayan buat bola bowling” kata mas edy sambil menyodorkan keresek berwarna hitam. “Bapak aja yang masukin kepalanya ke keresek” jawab arif sambil melangkah menuju pantri dengan wajah yang sedikit takut. Tak berselang lama arif pun kembali membawa 4 gelas kopi menggunakan nampan. “Amankan di pantri?” Tanya ane. “Aman pak” jawab arif dengan senyuman. Setelah menghabiskan kopi yang dibuatkan oleh arif ane pun kembali ke cubical melanjutkan pekerjaan.

Tak terasa waktu telah menunjukan pukul 18.00 dan pekerjaan belum beres, “lembur lagi nih” kata ane dalam hati. Ane pun mencoba meregangkan badan kebelakang dan zzeeppp….tiba-tiba ruangan menjadi gelap total karena lampu ruangan mati. “Waduh apa-apaan ini” kata ane dalam hati, ane pun berdiri dan berteriak ke arah tim audit yang posisinya ada di ujung lorong “rif tolong cek saklarnya dong”. Dan dalam kegelapan terdengar seretan langkah kaki menuju cubical ane. “Mas edy?” tanya ane.

Tidak ada jawaban dan seretan langkah kaki itu berhenti tepat di samping ane dan dengan cepat orang yang berdiri disamping ane itu memberikan sebuah benda ke pangkuan ane. Belum sempat ane menebak benda apa itu, tiba-tiba lampu ruangan menyala. Bibir ane bergetar dan mata melotot, jantung berdebar keras serasa mendobrak ingin keluar dari badan ane. Sangat di luar dugaan kalau benda yang ada di pangkuan ane itu adalah sebuah kepala dengan wajah melotot dan mulut menganga. Dan yang berdiri di samping ane adalah badan tanpa kepala yang berdiri tegap seperti patung. “Aaahhhkkkk” teriak ane sambil membuang kepala itu dan segera menutup mata. “Ada apa bro?” Tanya mas edy yang segera datang karena mendengar teriakan ane. “Sibuntung mas” jawab ane. “Udah ayo pindah, kerjainnya di cubical audit aja” kata mas edy ke ane. “Iya mas bentar” jawab ane dengan wajah yang masih shock.

“Ada apa pak?” Tanya adit ke ane. “Sibuntung ngerjain gue” jawab ane sambil melangkah ke meja kosong. “Hehehe” arif tertawa kecil. “Ketawa lagi lo, lo siapin gawang diujung sana sama disini cepetan rif” kata mas edy. “Buat apaan pak?” Tanya arif. “Ya buat main bola lah” jawab mas edy. “Wah pas ini 2 lawan 2, mana bolanya pak?” Tanya arif. “Lo cari sibuntung terus lo pinjem kepalanya sebentar buat main bola” jawab mas edy. “Iihhh…bapak aja sana yang pinjam, ngeri saya” kata arif. Kami pun melanjutkan pekerjaan kami seolah-olah tidak terjadi apa-apa sebelumnya.

Sedang sibuk dengan tugas masing-masing, adit pun meregangkan lehernya karena lelah dan tanpa sengaja ia melihat sosok berdiri di ujung ruangan yang lampunya memang sengaja tidak dinyalakan. Sosok itu berambut panjang dan samar-samar terlihat menggunakan baju gaun merah panjang. “Waaa..simerah” teriak arif sembari menundukan dan menutup kepalanya di atas meja. “Udah biarin gak usah dilihat” kata mas edy. Arif pun segera menundukan kepalanya. “rif ngapain lo nunduk? sana lo datengin simerah. Dia nungguin lo tuh di tempat remang-remang” kata mas edy sambil melempar buntelan kertas ke arif. “iihhh..ogah..bapak aja sana” jawab arif sambil menutup kepalanya.

Kami semua fokus ke monitor komputer dan sengaja tidak mau melihat kemana pun. Dan ane merasa seperti ada sosok yang melayang lewat di depan cubical kami, namun ane tidak mau melihatnya. “Bruuaakkkkkk” suara lemari besi yang di pukul menggunakan alat yang keras. Kami pun kaget dan reflek melihat ke lemari besi di ujung ruangan tidak ada apa-apa. “Udah ayo pulang, edan ini gangguannya” kata mas edy. Tanpa basa-basi kami langsung berbegas, dengan wajah ketakutan kami semua melangkah keluar. Baru melangkah sampai di luar cubical, terdengar suara kursi diputar-putar “ngiik..ngiik..” ane pun langsung menoleh ke belakang dan dada ane pun serasa sesak karena tepat di kursi adit ane melihat sosok badan tanpa kepala duduk sambil memutar kursi ke kiri dan ke kanan.

hantu tanpa kepala

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.