Perjalanan Dinas 3

Update kali ini mungkin tidak sehoror cerita sebelumnya, TS hanya ingin berbagai pengalaman kebahagian dan kekeluargaan kami saat melakukan tugas. Dimanapun mahluk dari alam lain selalu ada dan kalau lagi apes pasti bisa bertemu dengan mereka.

Tampak wajah adit dan arif tersenyum-senyum menikmati perjalanan dinas ini. “Bentar lagi mereka bakal nangis-nagis minta pulang mas” bisik ane ke mas edy. “Ya kita lihat aja nanti, mereka ini punya jiwa laki gak” bisik mas edy sambil cengengesan.

Kami diantar dengan mobil fortuner dimana arif dan adit duduk di kursi belakang, ane dan mas edy di tengah sedangkan di depan sopir dan pak sadimun yang mengantar kami untuk mempersiapkan segala sesuatunya disana nanti. Jalan yang kami lewati udah mirip jalan offroad jadi mau gak mau pantat kami bisa saling beradu karena mobil yang pontang panting jalannya.

“Eh rif, lo belum puas tadi malam sama adit? Jangan disini ntar aja kalo dah sampe, sabaran dikit donk” mas edy ngeledek arif dan adit. “Gak pak, ini jalannya yang kurang bagus” jawab arif dengan wajah yang memerah. “Ah lo alasan aja, udah santai aja gue ngerti kok rif” sambung mas edy. “Kami normal pak” jawab adit. Ane cuma ketawa terbahak-bahak sama kelakuan mereka.

Singkat cerita, kami telah sampai di rumah dinas kepala pabrik dan akan menginap disitu karena tidak ada mess di daerah ini. Setelah mengatur semua keperluan kami dan memperkenalkan kami dengan bu nani yang akan menjadi asisten rumah tangga selama kami menginap nanti, pak sadimun pun pamit pulang bersama sopir.

Rencana kami akan menginap selama 3 hari 2 malam di sini. Kebetulan rumah ini hanya ada 2 kamar, 1 kamar untuk kepala pabrik (walaupun jarang dipakai karena ia lebih sering tidur dipabrik) dan 1 kamar lagi untuk kami. Tidak mungkin kami semua cukup tidur disatu ranjang walaupun ukuran ranjangya besar, harus ada salah satu dari kami yang tidur di sofa depan dan adit memilih untuk tidur di sofa.

Hari pertama tim audit mempelajari semua berkas yang didapat dari kepala pabrik yang hari itu cuma bisa kasiin berkas kemudian kembali ke pabrik dan ane mempelajari profil karyawan yang ada di pabrik. Awalnya semua berjalan dengan baik hingga sore hari jam 4an disaat orang-orang biasanya mandi. Ane, adit dan mas edy masih duduk di sofa sambil menyeruput kopi hitam buatan bu nani.

Arif dengan menenteng handuk bertanya “gak mandi pak?”. “Kayaknya gak rif, dingin banget (kalimantan itu dilewati garis khatulistiwa jadi panasnya itu bisa 2 kali jakarta)” jawab ane sambil cengengesan penuh makna. Mas edy pun sampai keselek kopi karena menahan tawa. Tak lama arif pun keluar dari kamar mandi dengan wajah bingung. “Kenapa rif?” Tanya ane. “Kok airnya coklat ya pak” jawab arif. “Emang di sini kayak gitu, kan daerah rawa jadi airnya coklat agak kehitam-hitaman, tambah sabun detol aja biar mati kumannya. “Hanya kuman kan?”bisik mas edy. Kami pun senyum-senyum berusaha menahan tawa. Arif pun mengikuti saran ane dan mandi.

Tak lama terdengar suara guyuran air pertanda arif sedang membasahi tubuhnya dengan air, “ahh..ahh..apa ini, pak tolong pak..tolong pak..”teriak arif. Ane dan mas edy pun tertawa terbahak-bahak namun adit masih bingung dengan kami. Mas edy pun menghampiri arif, “kenapa lo rif?” Tanya mas edy. “Tolong pak..ini badan saya sampe kaki digigitin lintah” jawab arif.

Dengan semangat mas edy menarik lintah itu dengan sekuat tenaga “adoohh..pelan-pelan pak..sakit” pinta arif. Jujur ane waktu itu gak nahan lihat mereka berdua, ane ngakak sampai guling-guling dan keluar air mata. Adit yang sudah mengerti kenapa kami tertawa pun kini ikut tertawa terbahak-bahak. “Buka handuk lo rif kali aja tu lintah nempel di ti**t lo” pinta mas edy. “Gak pak, gak ada” jawab arif sambil memegang erat handuknya.

Waktu pun berlalu dengan cepat dan tak terasa hari mulai gelap, setelah mempersiapkan hidangan makan malam bu nani pun pamit pulang. Bu nani berpesan “kalo ada apa-apa atau mau buat sesuatu bisa panggil saya di rumah depan pak, gak usah buat sendiri”. Setelah selesai makan kami bersantai di sofa sambil merenung dan sambil adit tiduran di lantai sambil mendengarkan musik dengan headset (tidak ada TV dan radio), tiba-tiba pintu depan rumah tertutup dengan keras seperti di banting padahal tidak ada angin.

Mas edy pun terdiam dan berbisik ke ane “ada yang marah bro, dia ngerasa keganggu sama kita”. Ane cuma menganggukan kepala tanpa bicara apapun. “Aduh pak kenapa saya di pukul?” Tanya adit sambil memegang pipinya. “Lah siapa yang mukul lo” tanya ane. “Udah..udah, ada yang gak suka kita disini” kata mas edy dengan wajah serius. Tiba-tiba terdengar suara “teeng..teeng..teeng..” suara orang menggunakan perkakas dapur di dapur. “Mungkin kucing atau tikus itu” jawab ane menenangkan arif dan adit yang udah ketakutan. Kami pun tidur dikamar melepas lelah kecuali adit tidur di sofa.

Waktu berlalu dengan cepat dan pagi pun menyapa kami, kami berangkat melakukan tugas kami masing-masing. Tepat pukul 5 sore kami pulang bersama kepala pabrik, “silahkan pak mandi dulu biar segar” kata kepala pabrik. “Rif mandi sana” pinta mas edy. “Gak pak dingin hari ini” jawab arif. Adit tertawa mendengar ucapan arif. Kami pun tidak ada yang mandi (3 hari 2 malam kami cuma cuci muka, karena banyak lintah di air sumurnya).

Setelah selesai makan malam kami pun tiduran dikamar, terlihat arif tiduran sambil tengkurap “rif cepet buka celana, gw udah gak tahan” mas edy menggoda. “Apaan bapak ini? Otak kumuah (otak kotor dalam bahasa padang)” bentak arif langsung posisi duduk. “Udah gak apa-apa rif, ntar pake balsem buat pelicinnya” goda mas edy dengan tubuh mau menuju ke arif. “Otak kumuah..otak kumuah, maju lagi saya tonjok bapak” jawab arif dengan posisi kuda-kuda silat padang.

Ane ketawa ngakak guling-guling lihat mereka berdua. Selesai bercanda kami pun tidur, tiba-tiba adit berteriak “aaaahhkkk”‘, kami pun keluar kamar termasuk kepala pabrik. “Ada apa dit?” Tanya arif. “Tadi ada orang di dapur, kirain bu nani ane mau minta tolong buatin mie rebus, pas gw ajak ngobrol dia noleh, wajahnya hancur berdarah-darah” jawab adit. “Udah gak usah dipikirin mungkin lo tadi mimpi doang” kata ane mencoba menenangkan adit. “Gak mungkin saya mimpi, saya masih belum tidur pak” adit menjelaskan. “Ya udah tidurnya di kamar aja pak, sofanya di bawa masuk ke kamar aja” kepala pabrik menenangkan adit.

Saat sedang tiduran di kamar, adit dan ane melihat sosok gede besar warna hitam berdiri di depan pintu kamar kami, karena sangat besar kami cuma melihat kakinya. Kami pun membalikan badan untuk tidak melihatnya dan segera tidur hingga pagi.

Saat pagi, ane masih tertidur tiba-tiba terbangun karena mendengar suara arif yang berteriak “siapa ini yang buang air gak disiram? Adit kamu gak disiram ya ini t*i nya gede-gede banget lagi”. “Bukan aku, tadi pak edy yang dari kamar mandi” jawab adit. Ane yang baru bangun pun langsung tertawa karena lihat muka mas edy yang merah dan diam seribu bahasa.

Arif pun juga terdiam karena udah teriak-teriak dikiranya adit yang habis buang air besar tapi ternyata atasannya sendiri. Setelah bersiap dan survey ke pabrik sebentar, kami pun kembali ke Mess VIP 2. Selama perjalanan mas edy berkata “dirumah itu memang ada penunggunya, satu cewek yang mukanya serem satu lagi kayak genderuwo tapi tinggi besar dan yang menampar adit itu sosok yang tinggi besar itu. Dia menampar adit sebagai salam perkenalan aja.

Saat sampai di mess 2 kami segera membuat laporan dan tak terasa waktu telah menunjukan jam 5 sore. Ane pun segera mandi karena badan terasa lengket (2 malam gak mandi karena takut lintah). Setelah mandi kami pun menghibur diri dengan karaoke sambil menunggu makan malam.

Kami berkaraoke seperti orang kesurupan teriak-teriak dengan sekuat tenaga dan tanpa sengaja adit melihat di belakang kami berdiri sosok wanita berbaju lusuh putih panjang dengan rambut yang terurai hingga ke lantai dan matanya menatap penuh amarah (mungkin karena dia gak suka kami ribut).

Wajah Adit pun pucat dan tidak bisa berbicara apa-apa. Dengan segera mas edy meminta kami mematikan musiknya dan mengalihkan pembicaraan mengenai budaya kerja di tempat ini. Adit pun mulai tenang setelah di rangkul dan diajak bicara oleh mas edy (ane dan arif tidak tau apa yang terjadi saat itu). Setelah selesai makan malam kami pun beres-beres ( packing) karena besok pagi kami harus ke kotanya dan segera kembali ke jakarta.

Setelah selesai beres-beres kami pun istirahat agar besok fit untuk melakukan perjalanan yang sangat sebentar yaitu hanya 8 jam. Malam itu ane sulit memejamkan mata seolah-olah tidak ingin tidur, tanpa sengaja ane melihat sudut ruangan kamar berdiri sosok putih yang rupanya tidak asing lagi bagi ane. Ane bengong antara sadar dan tidak sadar dan jantung pun berdetak dengan kencang waktu ane sadar bahwa itu adalah sosok yang pernah ane peluk yaitu pocong. Ane pun segera membalikan badan menutup wajah karena ketakutan.

Dan ternyata mas edy juga melihatnya tapi hanya bisa merem ketakutan. Karena sangat ketakutan akhirnya kami pun ketiduran hingga pagi. Beda kamar beda juga kejadiannya, ternyata adit dan arif pun juga diganggu. Mereka juga kesulitan untuk tidur karena gangguannya lumayan mengganggu tidur.

Suara dari pintu lemari bergerak terbuka dan tertutup sendiri tanpa ada sosoknya “ngeek..ngeek” yang cukup mengganggu tidur (ane dapat cerita ini dari mereka saat diperjalanan ke kota). Dan mereka pun sempat kebingungan dipagi hari saat ingin mencuci celana dalam mereka karena mimpi basah lagi oleh sosok yang sama seperti sebelumnya tapi karena harus berangkat pagi maka mau gak mau celana dalamnya harus dibungkus keresek. Kami pun pergi ke kota dengan pengalaman yang tidak akan terlupakan, dan pasti suatu hari akan kembali lagi karena tugas.

perjalanan dinas Mungkin seperti ini sosok yang dimimpiin mereka

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.