Perkenalan dengan Mas Supri

Kami berdua berjalan menuju lift dengan tergesa-gesa, saat menekan tombol lift ternyata lift sedang di lantai bawah dan kami terpaksa menunggu. Kami berdua berdiri menunggu lift tanpa ada percakapan apapun, terlihat diwajah kami tegang dan berusaha mengawasi sekitar.

Tak lama terdengar suara senandung “hemmm..heeemmmmm…hemmmm” di sebelah kiri kami. Kami hanya saling memandang dan tak berani mencari suara apa dan dimana. Awalnya suara orang bersenandung itu terdengar kurang jelas, namun kini suara itu semakin jelas. Dan kami menengok di sebelah kiri yang terdapat ruang kaca yang berfungsi sebagai ruang rapat. Berdiri sosok yang familiar bagi ane dengan tatapan kosong namun tersenyum di balik kaca.

Tahukah sosok apa itu? Itulah sosok simerah, ia mewujudkan lagi dirinya. Mas edy pun dengan terus menerus menekan tombol lift agar segera terbuka. Dan untungnya lift terbuka dan mas edy segera menarik ane yang masih terpaku menatap simerah untuk masuk ke lift. Di dalam lift mas edy merangkul ane sambil berkata “tarik napas bro, rileks”. “Coba kalo cantik gw kimpoin tuh simerah” sambung mas edy. “Gila lo mas, sempet aja lo bercanda” jawab ane dengan wajah yang tegang.

Sedang mengobrol untuk memecah suasana tiba-tiba di belakang kami ada yang berbicara “bang bisa pegangin kepala saya?”. Dengan reflek kami menengok ke belakang dan “aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhkkkk” kompak kami berteriak setelah melihat sosok dengan kepala buntung yang menyodorkan kepalanya pada kami. Reflek mas edy memencet tombol lift agar terbuka dan langsung terbuka.

Kami berlari keluar dengan segera untuk menghindar dari sibuntung. Sejenak kami menarik nafas setelah keluar lift, lift tertutup dan terlihat di display 23, 22, 21 … dan kami sadar sekarang kami ada di lt. 24 (ada apa dengan lt. 24? baca : Pengenalan pertama).

Memang suasana sedikit gelap karena kosong dan hanya di terangi beberapa lampu kecil. Belum selesai kami memantau sekitar tiba-tiba terdengar suara “hihihihi” di pojok dan terlihat sosok putih yang bergerak mendekat ke kami. Dan sangat cepat sosok itu telah berdiri kira-kira 1 meter di depan kami sambil tertawa “hihihihi”.

Wajahnya pucat dengan keriput-keriput di sekitar wajah dan rambut putih panjang, sosoknya kurang lebih seperti seorang nenek-nenek namun berbaju putih panjang. Serentak kami berbalik badan berlari ke arah tangga darurat mengikuti lampu penunjuk kearah tangga darurat yang bertuliskan “EXIT”.

Kami pun berusaha turun dengan tangga darurat karena tidak mungkin menunggu lift ditemani sosok itu. “Gila tu kunti uzur, nekat banget dia. Emangnya kita cowok apaan suka nenek-nenek” celetuk mas edy sambil ngos-ngosan menuruni anak tangga satu demi satu.

Tepat di lt. 21 di ujung bawah tangga berdiri sosok hitam besar berbulu dengan gigi dan kuku yang panjang dan mata merah sambil menatap penuh dendam pada kami dan meraung “eerrghh”. Langkah kami pun terhenti dan segera kami keluar dari pintu darurat untuk masuk ke dalam gedung.

Tak lama menekan tombol lift pun terbuka. Kami duduk sejenak di lobby menghilangkan rasa lelah sejenak. “Katanya lo berani mas? Tapi tadi lo teriak udah kayak banci di tangkap satpol PP” tanya ane memecah suasana. “Ane bukan takut broo, cuma malu ketemu mereka” jawab mas edy. Dan kami pun tertawa bersama dan berpamitan untuk pulang.

Dalam perjalanan pulang (berjalan kaki), ane di panggil tukang nasi goreng, lumayan nih makan gratis pikir ane “mas..mas, sebentar mas” panggil tukang nasi goreng sambil memperhatikan ane dari atas ke bawah dan celingak celinguk kiri kanan (kayak mau nyebrang di jalur busway).

“Mas gak apa-apa kan?” Tanya tukang nasi goreng itu. “Iya gak apa-apa, ada apa gitu mas?” Jawab ane. “Kemaren saya dan beberapa pelanggan lihat mas jalan pulang tapi mas gendong cewek di belakang pake baju merah wajahnya serem” tanya tukang nasi goreng itu. Ane cuma nyengir gak tau mau bilang apa, dan gak tau mau cerita dari mana.

“Tapi sekarang udah gak ada, jangan lupa mandi mas sampai di rumah biar yang negatif-negatif hilang” kata tukang nasi goreng itu. Dia pun memperkenalkan diri dengan nama Supriyono, dipanggil Supri. Ane pun pamit pulang ke kosan dan langsung mandi.

hantu

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.