Sekolah Berhantu (3)

Sudah sering aku mendengar tentang cerita  hantu di sekolah. Namun dari beberapa pengalaman (baca : sekolah berhantu 1 dan sekolah berhantu 2) tetap membuatku kurang yakin bahwa sekolah berhantu memang benar adanya. Namun kali ini, mataku membuktikan sendiri bahwa sekolahku memang berhantu dan mereka suka mengganggu.

Aku sering menceritakan kejadian yang aku alami pada teman-temanku. Aku bercerita dengan sangat antusias karena pengalaman itu merupakan hal yang baru bagiku. Aku sering mendengar cerita bahwa di sekolahku memang banyak hantunya, namun tak pernah terbayang olehku kalau mereka suka mengganggu.

Pengalaman baruku ini telah aku alami beberapa hari yang lalu. Seperti biasa, sebelum memulai awal tahun ajaran baru guru-guru harus ke sekolah. Kami harus ke sekolah untuk menata kelas dan mempersiapkan segala sesuatunya untuk memulai pelajaran baru.

Kebetulan aku harus pindah kelas jadi mau tidak mau aku harus memindahkan semua barang-barang yang aku perlukan. Semua barang-barangku aku masukan ke dalam bak plastik besar dan aku simpan di gudang untuk sementara, karena kelas lamaku sedang dibersihkan oleh guru lain.

Hari itu aku membersihkan dan menata kelas baruku. Sekedar informasi, kelas baruku ini lokasinya di ujung lorong gedung sekolah. Karena di sekitar kelas terdapat banyak pohon termasuk pohon bambu jadi cahaya matahari sedikit terhalang. Ketika mendung, aku harus menyalakan lampu karena kelasku pasti menjadi kurang cahaya.

Ketika pertama kali masuk ke dalam kelas itu, aku merasa agak aneh. Cahaya yang redup membuatku sedikit parno berada di kelas itu. “ngiiikk…ngiik” suara pohon bambu bergesekan karena tertiup angin membuat suasana semakin mencekam.

“kelasnya sunyi sekali, bagus untuk menambah konsentrasi belajar” pikirku positif terhadap kelas baruku itu. Aku segera menata buku-bukuku pada rak buku dengan rapi. Aku menata buku-buku itu ujung ke ujung agar padat dan tidak goyah. Kemudian aku mencoba menentukan posisi meja yang nyaman dalam mengawasi murid-murid.

Ketika aku ingin menggeser meja guru tiba-tiba “bruuuk” semua buku-buku yang telah aku susun berhamburan di lantai. “kok bisa jatuh ya, kan udah padat disusunnya” pikirku aneh. Kemudian aku segera menyusunnya kembali. Aku menyusunnya lebih padat dengan memasukan kembali buku-buku lain sehingga menjadi sangat padat dan rapat.

Setelah itu aku kembali melanjutkan memindahkan posisi meja guru. Belum sempat aku menyentuh meja guru itu tiba-tiba “bruuuk” buku yang tadi aku susun kembali berhamburan di lantai. Perasaanku  menjadi tidak enak dan bulu kudukku tida-tiba merinding. “ini pasti buka karena angin” pikirku saat itu. Aku segera keluar kelas karena takut dan tidak melihat ada siapa-siapa yang sedang jalan di sekitar kelasku.

“ambil barang dulu di gudang” pikirku saat itu sambil mencari suasana lain. Aku berjalan menuju gudang sambil menyapa beberapa guru yang aku temui. Setelah sampai di dalam gudang aku segera mencari dimana bak plastik yang berisi barang-barangku. Di dalam gudang itu juga banyak barang-barang guru lain yang belum dipindahkan ke kelas yang di tampung memakai bak plastik yang warna dan bentuknya sama.

Ketika sedang mencari bak plastik miliku tiba-tiba “braaak” suara meja yang dipukul menggunakan kayu. Aku kaget dan menoleh ke sumber suara itu “siapa sih yang bikin kaget” pikirku saat itu. Di dalam gudang itu hanya aku sendiri,” jadi siapa yang memukul meja itu?” tanyaku dalam hati.

Saat itu aku tidak ada rasa takut namun lebih fokus pada barang-barangku. Saat ingin menarik bak plastik milikku, sekilas aku merasa ada sekelebat bayangan lewat di sampingku. Aku menoleh namun tidak ada apa-apa selain tumpukan barang dan kursi-kursi serta meja.

Aku kembali menarik bak plastik itu yang cukup berat bagiku. “heeemm…heemmm..heemm..” suara senandung nyanyian. “Dari mana suara itu, ah mungkin guru yang sedang lewat di depan gudang” pikirku positif saat itu. Aku melanjutkan menarik keluar bak itu, cukup melelahkan karena berat menariknya.

Aku berdiri diam sejenak menarik nafas agar lelahnya hilang. Namun telingaku masih mendengar senandung nyanyian tadi “heeemm…heemmm..heemm..”. Tidak tahu dari mana sumber suara itu, namu tidak sengaja aku ingin menoleh ke sebelah kiri. Betapa kagetnya aku melihat sosok wanita mengguanakan gaun putih dan berambut panjang yang kusut. Ia duduk di atas meja sambil menggoyang-goyangkan kakinya yang tergantung. Sosok itu tersenyum kepadaku kemudian bersenandung kembali “heeemm…heemmm..heemm..”

Tanpa basa-basi aku segera lari ke luar gudang. Namun langkahku terhenti karena pintu gudang tertutup dan terkunci. Aku tidak tahu sejak kapan pintu itu tertutup dan sialnya kunci pintu gudang itu ada dibagian luar pintu. “tolooong..bukain pintunya..tolooong” aku berteriak sambil menggedor pintu.

Tidak lama “klek..ngeeek” pintu dibuka oleh seorang guru. “ada apa?” tanya guru itu. “tadi ada perempuan duduk di situ” jawabku sambil menunjuk posisi sosok itu namun telah menghilang. “pintu ini juga tadi terkunci saat aku mau keluar” aku menambahkan. Guru itu terdiam tanpa ekspresi, “ya udah kembali ke kelas aja” kata dia. “aku mau mengambil barangku dulu” kataku.

Dengan segera ia memanggil guru lain yang kebetulan sedang lewat untuk mengeluarkan barang-barangku di gudang. Mereka berdua mengeluarkan bak plastik itu dan memang cukup berat  walaupun telah diangkat oleh mereka. Aku menunggu di luar gudang dan tidak berani masuk ke dalam gudang itu.

Kedua guru itu membantuku membawa bak itu sampai ke dalam kelasku. Setelah itu mereka pamit kembali ke kelas mereka. “terima kasih ya pak” kataku pada mereka. Aku menata kembali buku-buku yang berhamburan di lantai. Aku mencoba membaca doa dulu sebelum menatanya.

“Sekarang beresin barang-barang di bak” pikirku saat itu. Saat aku ingin mengambil barang-barang di bak, aku sangat terkejut karena bak itu tidak ada. Bak itu tadinya berada belakangku, tepat di depan rak buku. Aku melihat sekeliling, tenyata bak itu ada di belakang kelas.

“bagaimana bak itu bisa pindah ke situ?” tanyaku. “Di kelas ini kan tidak ada siapa-siapa” pikirku. Aku sangat ketakutan saat itu, sehingga aku segera berlari ke luar kelas. Aku berlari menuju kelas temanku, aku segera menceritakan apa yang telah aku alami hari itu padanya. “Bagaimana ini? kalau gini terus kan mengganggu” kataku padanya. “ayo kita lihat” ajak dia padaku.

Kami berdua berjalan meuju kelas baruku itu. “udah tenang aja, gak apa-apa kok” katanya padaku. Saat di kelasku, dia hanya melihat sekeliling dan berkata “dilanjutin aja tadi mau ngapain?” tanya dia. “tadi aku mau pindahin barang-barang di bak itu tapi sekarang pindah di belakang” kataku. “Ya sudah kita pindahin lagi” kata dia padaku.

Ia membantuku memindahkan bak itu dengan mendorong, karena tidak mungkin kami perempuan berdua kuat mengangkatnya. “ya udah lanjutin aja aku tunggu di sini” katanya sambil duduk di kursi murid. Aku segera memindahkan barang-barang yang ada di dalam bak plastik itu dan menatanya.

“ngeeekk” suara kursi murid bergeser. Aku juga mendengarnya namun aku mengira suara itu berasal dari kursi temanku karena kebetulan ia duduk di kursi murid. “sekali lagi kamu ganggu, awas aja ya!” temanku berbicara  dengan nada yang agak keras.

Aku menoleh padanya dengan agak bingung, “siapa yang ganggu?” tanyaku. “Gak apa-apa, lanjutin aja” katanya padaku. Namun aku tidak percaya begitu saja, aku berjalan mendekatinya dengan perasaan yang takut. “siapa bu yang gangguin?” tanyaku. “Disini emang ada penunggunya, jail dia” kata temanku.

“Dari awal aku di gangguin sih aku sudah berpikir begitu, tapi ini jail banget sama kayak di gudang” ujarku. “kalau di gudang itu ada kuntilanak, emang kadang suka ganggu tapi jarang-jarang. Kalau yang disini itu anak kecil” katanya padaku. “kok bisa tahu bu? Tanyaku”. “Iya aku bisa lihat mahluk kayak gitu.

Aku terdiam sejenak mendengar temanku itu bisa melihat mahluk halus. “kalau anak itu jail atau usil dimarahin aja, atau ancam apa gitu. Kalau masih usil ntar bilang sama aku biar aku jewer,hehe” katanya padaku sambil tertawa. “hahaha..siap” kataku.

Sedang ngobrol sama temanku, tidak senagaja aku melihat sosok anak kecil berdiri di pojok belakang kelas. Badannya menyerupai anak kecil namun berwarna hitam. Rambutnya hitam pendek tapi seperti gimbal. Aku melihatnya sekilas namun sosok itu telah menghilang saat aku mencoba melihatnya kembali dengan jelas.

cerita hantu di sekolah

Kali ini aku yakin semua sekolah memang ada penghuninya. Sekolah yang dipakai saat siang hari dan kosong saat malam merupakan tempat favorit bagi mahluk halus. Mungkin sekolah lain memiliki cerita yang lebih menyeramkan, namun aku telah membuktikan di sekolahku kalau mereka memang ada.

Catatan : Pengalaman seram ini dikirim oleh Nova, seorang guru di sekolah swasta. Jika ingin berbagi pengalaman seram dalam hidup anda, silahkan kirim cerita anda melalui form kirim cerita.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.