Simerah Bercanda?

Hari itu entah mengapa kerjaan tidak seperti biasanya, semua kerjaan dapat diselesaikan dengan cepat. Dengan perasaan lega ane berdiri dan menoleh kiri dan kanan. Siapa tahu ada simerah sang kuntilanak merah suka nemplok ditembok mencari nyamuk (sudah kayak cicak). Ane berjalan menuju cubical tim audit. “Woyy broo…kerja woii kerja…malah main hape..makan gaji buta yaa?” Teriak ane dari luar cubical tim audit karena melihat mereka sedang sibuk dengan gadget. Arif seketika langsung menyimpan hape nya dan pura-pura sibuk mengoprek komputer. “Hahaha..jangankan gaji buta..gaji bisu gak masalah buat gw” jawab mas edy sambil tertawa menunjuk muka adit yang bengong ketakutan.

 Ane pun duduk dikursi kosong di cubical audit sambil menenangkan arif dan audit “tenang aja broo…jangankan main hape, mainin cewek juga bebas disini” kata ane sambil bersandar dikursi untuk menikmati hidup. “Mereka berdua doyannya cewek berewokan” sambung mas edy sambil tertawa. “Apa bapak ini,mulai kumat ini penyakitnya” kata arif dengan wajah cemberut. “Emangnya ada ya pak cewek yang berewokan?” Tanya adit. “Pura-pura polos muka lo, tu arif cewek lo berewokan gak? Jawab mas edy menegaskan. “Emang lo berdua gimana pacarannya?” Tanya ane. “Gantian lah broo..saling mengasah pedang” jawab mas edy menjelaskan. “Otak kumuah..otak kumuah bapak ini..kesambet simerah ni pak edy” kata arif dengan wajah kesal.

 “Hati-hati sebut simerah ntar dia dengar” kata adit. “Biarin aja dia dengar..saya ajak wefie kalo dia datang” jawab arif dengan berani. “Benar berani? Nanti kencing lagi dicelana sambil peluk adit” sambung mas edy. “mana gak ada dia, gak berani dia dateng karena takut sama mukanya pak edy” jawab arif meledek. “Iya iya percaya” jawab mas edy. Hari itu entah mengapa kami semua merasa santai dan tidak ada pekerjaan yang deadline.

 Tak terasa waktu menunjukan pukul 5.15, dimana beberapa karyawan sudah mulai pamitan pulang. Ane duduk sebentar sebelum pulang dan bersantai sambil menyeruput kopi buatan adit yang sebenarnya dipaksa mas edy untuk buat kopi. Arif dengan wajah ceria bersenandung lagu padang yang mungkin hanya arif dan Tuhan yang tahu arti lagu itu. Mendengar suara fals arif kami semua pun bengong, kami bengong bukan karena mual atau pusing mendengar arif bernyanyi tetapi karena melihat sosok yang berdiri dibelakang arif. Sosok itu berwarna merah dan dengan wajah menatap kami tangannya mulai mendekat ke leher arif. “Kok saya merinding ya pak?” Tanya arif. Kami semua membisu masih menatap sosok itu. Arif yang melihat kami terdiam dan menatap ke arah lain membuatnya melihat kebelakang dirinya secara reflek. Dan dengan wajah pucat ketakutan kira-kira 15 detik lamanya ia menatap simerah sang kuntilanak merah itu.

 “Pak tolong pak….paak” arif berteriak minta tolong pada kami karena badannya terasa lemas tidak bisa bergerak seolah-olah tangan simerah memegang dan menahan punggungnya (menurut pengakuan arif). Simerah menatap kami dan tersenyum sambil memegan arif (posisi tangan simerah seperti merangkul) “paaaak toloooong…” teriak arif pada kami. “Ha..ha..ha..ha…”kami bertiga serentak tertawa bersama. “Tolooong paaak..jangan ketawa…”teriak arif sambil menangis.

Kami pun semakin tertawa terbaha-bahak “nih rif selfie sama simerah” kata mas edy sambil melempar hapenya pada arif. ” paaak tolooong” arif menangis sejadi-jadinya (hampir mirip seperti anak kecil yang menangis). “Tadi katanya mau foto wefie sama simerah, mana?” Ledek mas edy. Arif pun langsung duduk namun masih tersedu-sedu saat kuntilanak merah itu telah menghilang secara tiba-tiba. “Sabar rif, cowok bukan cuma adit di dunia ini” kata mas edy sambil menepuk-nepuk punggung arif. Arif pun berdiri menghalau tangan pak edy “Gak lucu pak” jawab arif sambil berjalan keluar cubical. “Kemana rif? Awas ntar di luar dicekek simerah” teriak ane melihat arif berjalan keluar. Tanpa aba-aba arif pun membalikan badan dan duduk kembali ke kursinya.

Entah mengapa, hari itu kami tidak merasa takut sama sekali (kecuali arif yang shock berat dan 3 hari gak masuk karena demam setelah kejadian itu). Mungkin karena sosok kuntilanak merah atau simerah telah sering kami lihat sehingga sudah tidak aneh berada didekatnya. Ternyata simerah terkadang memang suka bercanda kalo lagi baik moodnya.

kuntilanak merah

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.