Suster Merah (2)

“Teet..teet…teet…” Suara bel ruangan. Bergegas aku menghampiri pasien yang membunyikan bel itu, “ada yang bisa dibantu?” tanyaku pada pasien tersebut. “eh..saya mau buang air kecil sus” jawab pasien yang terbaring tak berdaya itu. “sebentar ya bu saya ambil pispotnya dulu” jawabku sambil mencari pispot, namun karena tidak ada diruangan itu maka aku bergegas mengambil pispot cadangan di ruang jaga.

“ayo bu sini saya bantu” jawabku sambil membawa pispot. “sudah kok sus” jawab pasien itu sambil tersenyum. “sudah bagaimana bu?” tanyaku penasaran. “Tadi sudah dibantu sama suster yang pakai jaket merah” jawab pasien itu. “oh begitu, ya sudah nanti kalau perlu bantuan kembali tinggal tekan saja belnya ya bu” jawabku sambil meninggalkan ruangan dengan wajah yang bingung. Malam itu hanya aku dan temanku Putri yang kebetulan juga adalah seniorku yang bertugas jaga malam dan kami berdua tidak memiliki jaket berwarna merah.

“mbak put, siapa ya suster yang memakai merah?” tanya aku penasaran. “memangnya ada apa? Jawab mbak putri dengan wajah yang sedikit kaget. “Enggak, pasien tadi katanya sudah dibantuin sama suster yang pake jaket merah, kita berdua kan gak pake jaket merah. Kalau perawat dari ruangan lain gak mungkin bantuin pasien tanpa ijin dulu ke kita” jawabku dengan penuh penasaran.

Terlihat wajah mbak put sedikit pucat, dengan senyuman kecil ia terdiam sesaat dan mencoba mengalihkan pembicaraan. “Mau kopi nggak?” tanya mbak put. “Enak juga malam dingin-dingin gini buat kopi, kalau kita buat kopi siapa yang jaga nanti mbak?” tanyaku. “udah kamu jaga aja disini biar aku yang buatin” jawabnya sambil melangkah pergi. “oke mbak” jawabku dengan cengengesan.

Tak lama berselang, mbak putri kembali “ini ta kopinya, tapi tadi tumpah sedikit” kata mbak put dengan wajah yang ketakutan. “ada apa mbak kok kayak ketakutan gitu?” tanya aku kebingungan. “gak apa-apa kok, diminum kopinya ta” kata mbak putri. “jangan bohong mbak, kayaknya ada yang disembunyikan dari aku. Kasih tahu dong mbak” jawabku memaksa. “tadi aku lihat suster merah ta” jawabnya sambil ketakutan. “suster merah? Jadi siapa suster merah itu? Di ruangan mana dia?” tanyaku yang semakin penasaran.

“sebenarnya yang dilihat sama pasien itu bukan perawat seperti kita ta” mbak putri menjelaskan. “jadi perawat kayak gimana mbak? Jadi bingung aku” jawabku yang semakin bingung. “suster merah itu julukan buat hantu perawat yang sering menampakan dirinya” jawab mbak putri dengan wajah yang semakin ketakutan (baca : Suster Merah (1). “oh begitu” jawabku dengan cuek. Jujur aku kurang percaya sama hal seperti itu, karena menurutku hal seperti itu bisa saja hanya halusinasi karena ketakutan.

“teeet….” bunyi bel terdengar sekali. “aku terbangun dan karena melihat mbak putri yang sedang tertidur nyenyak, segera aku menuju ruangan pasien. “Ada yang bisa dibantu?” tanyaku. “namun pasien sedang tertidur, kebetulan diruanganku hanya ada satu pasien rawat inap malam itu. “mungkin dia lelah” gumamku dalam hati dan aku pun segera melangkahkan kaki menuju ruangan jaga.

Suasana tampak dingin dan sepi saat aku berjalan menyusuri lorong rumah sakit menuju ruang jaga. Sambil menguap karena ngantuk, aku berpapasan dengan seorang perawat. Wajahnya sangat anggun dengan bodi yang indah, namun aku sangat asing dengan wajah suster tersebut. Ia tersenyum padaku, dan aku pun membalas senyumannya. Setelah berpapasan, aku pun teringat dengan suster merah dan karena aku melihat perawat tadi menggunakan jaket merah, segera aku menoleh kebelakang. Aku terdiam sejenak karena tidak ada seorang pun dibelakangku. “kemana ya perawat itu, lorong lurus begini dia belok kemana ya?” gumamku dalam hati.

suster merah 2

 

Bersambung ke Suster Merah (3)

Catatan : Jika ingin berbagi pengalaman seram dalam hidup anda, silahkan kirim cerita anda melalui form kirim cerita.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.