Suster Merah (3)

Aku bukanlah orang yang mudah percaya dengan perkataan orang lain mengenai penampakan hantu atau sejenisnya. Aku percaya bahwa mahluk dari alam lain itu ada. Tetapi sangat sulit bagiku untuk percaya bahwa mereka bisa datang dan pergi sesuka hati dihadapan kita (seperti lagu Ello yang judulnya benci tapi rindu). Aku kadang-kadang suka menonton acara dunia lain dan uka-uka. Tetapi aku menonton acara itu tidak lebih karena tingkah laku pesertanya yang lucu. Bukan karena penampakan hantu yang dibesar-besarkan oleh mereka. Menurutku penampakan yang ada hanyalah rekayasa mereka untuk mendongkrak popularitas acara.

Setelah kejadian bertemu dengan seorang suster yang menggunakan jaket merah. Sering terpikirkan olehku apakah benar mereka bisa masuk ke dunia manusia. Apakah benar, orang yang sudah meninggal bisa dengan seenaknya masuk dan berkomunikasi dengan manusia (baca: Suster Merah (1)). Seberapa banyak cerita mengenai suster merah yang telah aku dengar tetap tidak mengubah keyakinanku. Aku yakin penampakan hantu atau mahluk halus hanyalah halusinasi semata.

Kebetulan hari itu aku mendapat jadwal shift siang, dari pukul 15.00 hingga pukul 21.00. Dengan wajah yang lelah dan ngantuk, aku dan teman shiftku berjalan menuju ruangan ganti perawat sambil bercanda. Waktu itu kami telat pulang karena harus melakukan beberapa urusan dulu saat serah terima atau pergantian perawat jaga. Kami pun sampai di ruang ganti dan segera bersiap-siap ganti baju dan penampilan. Mungkin telah menjadi prinsip perawat pada umumnya bahwa saat datang dan pulang dari rumah sakit, penampilan harus tetap nomor 1. Sekejam apa pun pasien di rumah sakit, sekeras apa pun kerjaan yang diberikan. Jika waktu telah menunjukan berakhir jam kerja, maka penampilan harus berubah 280 derajat (kecuali perawat yang sudah berumah tangga mungkin).

Karena kami telat datang ke ruang ganti baju, perawat lain yang duluan mulai keluar ruangan untuk pulang. Kebetulan di dalam ruangan itu hanya tinggal kami berdua. Setelah selesai mengganti baju kami pun bersiap untuk pulang. Namun temenku pergi ke toilet dulu dan memintaku menunggu. Saat sedang memainkan HP sambil menunggu temanku, aku merasa ada seseorang di pojok ruangan. Dan ketika aku menoleh, ternyata benar ada seorang perawat yang sedang duduk sendiri sambil melamun.

“kok belum pulang mbak? Tanyaku. Perawat itu tetap dalam lamunannya tanpa menjawab pertanyaanku. Karena aku tipe orang yang sok akrab, aku pun berjalan mendekati perawat itu. “pulang sendiri atau dijemput mbak?” tanyaku lagi. Perawat itu tetap diam membisu tanpa menoleh padaku sedikitpun. “ada apa mbak? Mukanya kok sedih?” tanya aku kembali. Perawat itu tidak menjawab namun ia menoleh dan menatap tepat ke mataku. Ia menatapku dengan mata yang berkaca-kaca. Sekilas aku memandangi wajah perawat itu dan perasaanku tidak asing dengan wajah perawat itu. Dan aku pun melihat jaket merah yang digunakannya. Aku teringat dengan perawat yang berpapasan denganku kemudian hilang di lorong rumah sakit tempo hari (baca: Suster Merah (2)).

Belum selesai aku mengingat-ingat, terdengar suara pintu toilet dan temanku memanggil. “Dita, dimana?” panggilnya. “Disini fin” jawabku sambil menoleh kebelakang. “ngapain di situ, ayo pulang” ajaknya. “Ini aku lagi ngobrol sama …” Aku menjawab sambil bengong karena di depanku tidak ada siapa-siapa. “ngobrol sama siapa? Tanya temanku sambil berjalan mendekatiku. “Tadi ada perawat yang ngobrol sama aku disini, tapi sekarang kok gak ada ya?” jawabku penasaran. “perawat mana? Jawab temanku yang juga ikut penasaran. “beneran ada kok tadi, mukanya sedih gitu terus pakai jaket merah” jawabku meyekinkan. “jaket merah? Udah ayo pulang!” jawab temanku sambil menarik tanganku dan melangkah dengan cepat.

Aku terus memikirkan bagaimana perawat itu bisa menghilang di ruang ganti baju yang pintu masuk dan keluarnya hanya satu. Tidak ada tempat bersembunyi di ruangan yang tidak terlalu besar itu. Keesokan harinya, aku bertanya pada temanku “fin, aku penasaran dengan perawat kemaren.” Sambil mencatat dia balik bertanya “perawat yang mana?” “itu lho perawat yang pakai jaket merah, jawabku. Dia pun terdiam sejenak dan dengan ragu menjawab “itu bukan perawat seperti kita” jawabnya. “maksundnya?” tanyaku. “Pernah dengar tentang suster merah kan? Nah, dia tuh suka menampakan diri di lorong rumah sakit dan ruang ganti baju” jawabnya.

penampakan hantu

 Aku terdiam dan berpikir apa benar yang aku lihat itu adalah penampakan hantu suster merah. Keyakinanku mulai goyah, aku ingin tetap tidak percaya tentang penampakan hantu. Namun aku melihatnya 2 kali dan menghilang begitu saja. Apakah benar atau tidak, hantu bisa dilihat oleh manusia, aku tidak tahu. Tapi pengalaman yang aneh dan sulit dijelaskan secara logika ini tidak akan aku lupakan. The End.

Catatan : Jika ingin berbagi pengalaman seram dalam hidup anda, silahkan kirim cerita anda melalui form kirim cerita.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.