SUWUN

Hai good readers, kenalin nama saya Sakti. Saya mau bagi bagi cerita yang berjudul suwun, karena kalo mau bagi bagi rejeki saya gak jadi nulis cerita disini (krik…krik…krik…), tentang pengalaman saya saat berkendara pulang sehabis ngapel.

Mungkin cerita ini hampir sama seperti cerita yang ditulis di PS. Setelah saya baca, akhirnya saya pingin cerita juga.

Cekidot! Saya tinggal di kota Jombang, dan waktu itu pacar saya, yang sekarang udah jadi mantan, tinggal di kota Malang. Seminggu sekali, entah hari Sabtu atau Minggu, saya selalu ngapel kerumah dia. Jombang – Malang berjarak kurang lebih 2 jam menaiki motor.

Daerah yang dilewati, adalah pegunungan. Jadi dari kota Jombang, kalau sudah masuk didaerah Kandangan, tidak lama kita akan memasuki daerah pegunungan. Dan kalian pasti tau bagaimana keadaan di jalanan pegunungan. Dingin banget, kalau malam gelap sekali, hanya ada lampu motor yang menerangi jalan kita.

Dan saya berkendara kurang lebih 1,5 jam dijalanan pegunungan ini. Oke selesai pelajaran geografinya, langsung ke inti cerita, biar kalian semua gak bosan baca. Hari Minggu malam, tepat pukul 21.00 WIB, papa pacar saya (yang sekarang dah jadi mantan), memberi kode kepada kami berdua yang ada di ruang tamu, yang sedang dilanda cinta, untuk segera mengakhiri perjumpaan kami waktu itu.

“Ehem…ehem…Yen, jam 21.00, kasihan Sakti rumahnya jauh”, kata Papa Pacar saya (sekarang jadi Mantan). Akhirnya, kami menyudahi kegiatan kami yang mengasyikan (ngobrol, main game, ghibah sana sini, dan kegiatan positif lainya) diruang tamu.

Pacar saya (yang sekarang udah jadi Mantan) membantu saya bersiap siap untuk perjalanan 2 jam saya menuju rumah. Setelah siap, kami biasa bertelepon selama saya dalam perjalanan, karena saya harus mengendarai motor sendirian malam malam. Jadi biar serasa ada teman, kami biasa bertelepon ria.

Headset sudah siap, awalnya saya putar musik terlebih dahulu sebelum menelepon, ini mengantisipasi saya ketika masuk di area pegunungan yang susah sinyal, saya gak perlu lagi berhenti dipinggir jalan untuk nyalakan musik dr handphone saya. Jadi musik yang sebelumnya saya putar, automatically play on (inggrisnya bener gak sih, Memutar musik secara otomatis) saat telepon otomatis terputus.

30 menit kami berbincang di telpon, dan tiba tiba sinyal terputus dan mati. Dan saya pun menyadari bahwa saya sudah masuk diarea pegunungan yang susah sinyal ini. Musik metalcore meluncur diruang dengar telinga saya, dan sambil mengikuti alunan beat dan menyanyikan lirik demi lirik yang dinyanyikan dengan suara scream, membuat saya tidak mengantuk, lupa dengan lamanya perjalanan dan udara dingin yang menerpa tubuh saya.

Memasuki daerah pegunungan yang semakin gelap, tidak ada teman selama perjalanan, itu hal biasa bagi saya. Tidak ada perasaan takut dalam diri saya. Meski mendengarkan musik, saya masih fokus dengan jalanan.

Pohon pohon yang tinggi besar menyelimuti gunung yang saya lalui, sangat gelap saya lihat. Kemudian tidak terasa, perjalanan melewati area pegunungan ini hampir berakhir. Musik di handphone masih memutar lagu lagu yang dinyanyikan grup band Asking Alexandria dan Blessthefall.

Semakin saya hanyut dalam alunan musiknya tiba tiba…. “SUWUN”, Suara seorang pria yang dengan jelas terdengar di telinga sebelah kiriku, mengatakan kata dalam bahasa Jawa tersebut, yang berarti Terima Kasih. “Yo!”, spontan saya membalas Suara itu, dan spontan kaget dengan apa yang terjadi.

 Saya rem motor saya, saya minggir dari jalan, melepas helm fullface saya dan melepas headset, sambil menengok kebelakang. Kalian tau, apa yang saya lihat ? TIDAK ADA SIAPA SIAPA. Saya yakin saya dengar suara seorang pria tadi. Dan gak mungkin Beau Bokan vokalis Blessthefall menyisipkan kata SUWUN dalam liriknya, kecuali dia turunan Eropa-Jawa.

Dan yang mengejutkan, saya berhenti diseberang sebuah makam Jawa. Ahay! Tanpa pikir panjang, saya langsung pake headset lagi, tapi tidak untuk dengerin musik, tp mencoba menelpon pacar saya (yang sekarang jadi mantan) , pakai helm, dan saya tau diarea ini, meski pegunungan, sinyal sudah ada.

Saya ceritakan pengalaman ini ke Pacar saya (yang sekarang mantan) dan minggu berikutnya, setelah kejadian tersebut, dihari ketika saya pulang setelah bercerita, dijalur dan tempat yang sama saya mencium aroma bunga melati yang wangi sejauh 1km saya berkendara.

Saya tidak takut, tapi saya juga tidak menantang. Saya tau hal seperti ini nyata, mereka ada. Tapi saya Yakin, TUHAN bersama saya. Misteri lain yang masih ada dalam benak saya sampai sekarang adalah apakah seorang pacar yang kita nikahi, bisa kita sebut sebagai Mantan Pacar? Semoga saya mendapatkan jawabannya….

4 comments

  1. Ini ceritanya bukan seremnya yg ditonjolkan, malah pacar saya yg sekarang mantan, lalu di blkang ada komedi apa org yg dinikahi bisa disebut mantan pacar. Hmmmmmmm, mon maaf nih min, utk sy penggemar cerita horror, kesannya malah ga ada serem2nya krn bukan horror yg diutamakan.

  2. Terima kasih sarannya kak, terkadang cerita horor butuh dilihat dari sudut pandang yang berbeda. 🙂

  3. Dulu saya sering bahas cerita horor dengan pacar saya (yang sekarang udh jadi mantan) wkwk

    Tapi boleh juga nih ceritanya.. Kapan” aku juga mau post cerita horror disini dah

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.