Tamu Kos Yang Menyeramkan

Setelah menyegarkan diri dengan mandi sore, aku segera duduk sejenak di dalam kamar kosanku. Hari itu aku tidak lembur jadi aku bisa pulang cepat. Aku duduk sambil mengakses facebook dan melihat foto-foto teman di instagram.

Suasana kosan ku saat itu lumayan hening dan tidak seperti biasanya, mungkin karena belum pada pulang dari kantor. Tidak aneh pulang malam di kota jakarta karena jalanan pasti macet. Entah mengapa aku merasa sendiri dan sepi saat itu, aku coba berdiri dan melongok ke luar pintu memang tidak ada siapa-siapa.

Aku mencoba mengambil gitarku dan menyanyikan lagu untuk mengusir kesepian hati. Di kamar kos ku belum ada tv, aku sengaja tidak membelinya karena pasti akan jarang ditonton. Hampir setiap hari aku lembur jadi kalau pulang ke kosan pasti langsung tidur, sehingga aku pikir tidak perlu ada tv.

Aku memetik gitarku dengan nada yang terdengar melow. Senandung nada yang bergetar dari gitar tersebut perlahan membuat berat mataku. Mataku mulai sayu dan hampir menutup. “Srek srek srek…” suara orang berjalan di lorong kosan. Aku membuka mata dan berteriak untuk menyapa “Oiii”. Namun tak ada balasan apa pun, biasanya teman kosan ku akan membalas teriakanku.

Aku berdiri dan mencoba melongok keluar lagi, namun tak ada siapa-siapa. Tampak kamar-kamar kosan sepanjang lorong masih gelap tak berpenghuni. “Mungkin hanya mimpi” gumamku dalam hati. Aku pun menutup pintu kamar dan kembali ke kasur sambil meraih gitarku.

Aku kembali menggerakkan jariku untuk memetik gitar. Kembali nada melow terdengar dari gitar yang sedang kumainkan. Perlahan mataku mulai berat dan terlihat sayu karena terbawa alunan nada gitar yang menyebabkan kantuk.

Suara gitar semakin lama semakin pelan dan menghilang. Tak terasa aku tertidur namun masih sadar dengan lingkungan sekitar. Otakku telah masuk ke dalam gelombang alpha atau keadaan otak saat sedang tidur. Aku memang telah tertidur namun masih sadar dengan lingkungan sekitar, aku masih bisa mendengar suara-suara di sekitar kamarku.

Saat sedang berbaring dengan setengah tertidur itu aku masih mendengar suara orang berjalan. Duk duk duk duk” suara langkah kaki yang terdengar dekat denganku. Aku mendengarnya dengan jelas dan segera membuatku tersadar dan fokus pada suara itu namun mataku masih tertutup.

Aku mendengar suara itu, namun aku merasa sumber suara itu tidak jauh alias masih di dalam kamarku. Perlahan aku mencoba membuka mataku karena penasaran dengan suara itu. Aku telah membuka mataku walaupun masih sayup-sayup melihat sekitar. Dalam keadaan seperti itu, aku melihat seorang cowok berjalan mondar-mandir di depat kasurku.

“Siapa itu ya” gumamku dalam hati. Sosok itu terus mondar-mandir dan sesekali berhenti untuk menatapku. Mungkin akan senang jika di tatap oleh seseorang wanita, namun kalau yang menatapnya adalah cowok aku pasti merindingnya sampai ke ubun-ubun. Sosok yang di kamar itu adalah seorang laki-laki menggunakan kemeja warna krem dan model rambut di sisir ke sebelah kanan.

Aku sungguh terkejut dan mataku membelalak setelah tahu bahwa cowok di dalam kamarku itu kepala bagian kanannya pecah dan mengalir darah ke wajahnya. Sosok itu terdiam berdiri menatapku dengan tajam. Jantungku bergejolak dan badan terasa panas dingin melihat sosok itu berdiri di depanku. Luka di kepalanya itu seperti luka karena terjatuh dari lantai 10 gedung tinggi. Aku segera menutup wajah dengan selimut karena aku cukup ketakutan saat itu.

Selang beberapa waktu penghuni kosan yang lain telah kembali pulang. Aku memberanikan diri melihat sekitar dan tidak ada siapa-siapa di kamarku. Sampai detik ini aku belum tahu siapa sosok itu. Namun memori kejadian itu sulit dilupakan hingga kini.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.