Telepon Dari Kantor Pada Malam Hari

Haiiii, perkenalkan aku new comer di blog PS ini. Aku ingin berbagi pengalaman kisah nyataku tentang telepon dari kantor pada malam hari yang pernah ku alami. Mungkin yang aku ceritakan memang bukan cerita horor tapi kejadianya cukup aneh.

saat itu aku bekerja di salah satu perusahaan pada tahun 2015. Perusahaan tempatku bekerja menyewa rumah untuk dijadikan kantor di daerah jakarta timur. Mungkin karena hanya mempekerjakan sedikit pegawai inti saja.

Gak usah lama-lama ya.. kita langsung ke inti ceritanya saja. Minggu-minggu pertama aku di kantor tersebut biasa saja.

Sampai memasuki bulan kedua aku merasa ada yang aneh. Aku sering merasa ada yang memperhatikanku terutama di kantor. Aku sering merasa merinding meski di tempat yang ramai, tapi aku tidak pernah melihat sosoknya.

Kejadian aneh pertama

Aku lupa kapan tepatnya aku mendapat panggilan dari kantor, seingatku ketika itu adalah weekend dan aku berada dirumah.

Aku hanya melihat di hp telah muncul notif 1 missed call dari nomer telepon kantor tempatku bekerja. Tapi aku abaikan saja dan saat bekerja aku tidak bertanya pada siapapun tentang panggilan tak terjawab ke hp ku tersebut. Toh akan ada yang membahasnya jika memang panggilan tersebut penting, pikirku. Tapi tidak ada seorang pun yang membahasnya.

Kejadian kedua

Aku mendapat telepon masuk dari kantorku lagi selang beberapa hari, kejadianya pada malam hari. Aku lupa tepatnya jam berapa. Dan segera ku angkat.

Tapi ketika ku angkat tidak ada suara dan aku pun menyapa “hallo.. hallo.. kok gak ada suara”.

Aku sempat tunggu 1 menit dan mencoba berbicara pada si penelpon tetapi tetap tidak ada jawaban. Suara di telepon benar-benar hening tidak ada suara sama sekali lalu aku tutup saja telponnya. Karena ku pikir ada temanku yang iseng.

Kejadian ketiga

Waktu itu aku merasa tidak enak saat sholat ashar. Kantor tempatku bekerja menyisakan 1 ruangan khusus untuk sholat. Dan ruangan tersebut berada di samping tapi masih satu bangunan. Tepatnya sebelahan dengan dapur. Dan ada pintu menuju teras yang tersambung ke teras depan.

Saat sedang sholat perasaanku sudah tidak enak. Seperti ada yang berdiri di belakangku dan memperhatikanku.

Aku pun merasa merinding. Tapi ku biarkan saja karena aku sudah beberapa kali merasakan hal yang sama hari-hari sebelumnya saat sholat sendirian.

Dan selesai sholat sebelum berdoa karena perasaan tersebut sangat mengganggu jadi aku menyempatkan untuk menengok kebelakang tapi tidak pernah ada siapa-siapa.

Jam masuk kerja kami adalah jam 9 tapi biasanya kami baru mulai bekerja sekitar jam 10 jadi kami pun inisiatif untuk pulang melebihi jam pulang kerja yang sudah ditentukan oleh atasan.

Tibalah saat sholat maghrib. Aku masih merasa hal yang sama seperti saat sholat ashar. Tapi lagi-lagi ku biarkan saja.

Selesai sholat maghrib aku merasa ingin mencari udara segar melawan penat. Maka duduklah aku di teras depan ruang sholat, keadaanya selalu gelap, hanya cahaya dari ruang sholat saja.

Entah kenapa tidak diberi lampu, aku tidak mengerti dan lupa tidak bertanya. Aku duduk di sebelah pintu sambil menikmati sebatang rokok. Ketika rokok hampir habis, aku mendengar ada suara korek gas yang dilempar dan jatuh ke lantai.

Aku sangat hafal bunyi nya. Karena di tempat kerja sebelumnya saat merokok bersama teman-teman di sela jam kerja. Salah satu dari kami ada yang meminjam korek dan diberikan dengan cara dilempar entah sengaja di jatuhkan atau tidak tertangkap, alhasil korek nya jatuh ke lantai.

Jadi aku sangat hafal bunyi itu. Tidak mungkin salah pikirku. Karena bunyinya begitu jelas dan keras. Maka aku yakin sekali jika itu suara korek gas yg di lempar dan jatuh ke lantai di arah depanku.

Aku pikir itu ulah salah satu temanku ingin mengerjaiku karena mereka memang suka sekali menggoda atau menjadikanku bahan bully.

Mereka bilang aku orang yang bagus ketahananya jika di bully. Dan tidak marah, malah sering kali saat mereka membully aku ikut-ikutan membully diriku sendiri.

Tapi saat ku cari benda tersebut di lantai tidak ku temukan. Bahkan aku tidak menemukan benda apapun yang kemungkinan jatuh di lantai.

Jantungku pun mulai berdetak kencang dan aku mulai merasa takut. Tapi aku tahan dan bersikap biasa saja saat aku masuk lagi ke ruang kerja setelah mematikan rokok terlebih dahulu.

Baca juga:

Hantu Kesasar di kantorku

Aku tidak mau melihat ada muka temanku yang bahagia karena membuat ku ketakutan jika memang mereka yang melakukannya. Tapi kondisinya sangat berbeda dari yang ku kira. Mereka duduk di meja kerja masing-masing dan ada juga yg sedang duduk berdekatan sambil mendiskusikan pekerjaan.

Seperti tidak ada kejadian apa-apa. Aku masih penasaran, jadi aku putuskan berjalan pelan dan berhenti dibalik tembok dan mendengarkan pembicaraan mereka karena aku ingin tau apa ada yang senang karena aku ketakutan.

Tapi mereka benar-benar bersikap biasa saja. Lalu aku kembali ke meja kerjaku membereskan barang-barangku di meja dan bersiap untuk pulang. Aku tidak cerita pada siapapun dan tidak ada seorang pun yang menyinggung kejadian tersebut.

Kemudian pada hari lain. Aku kembali mendapat telepon dari kantorku sekitar jam 10 malam. Aku angkat tapi seperti sebelumnya tidak ada suara. Aku biarkan beberapa menit tetap tidak ada suara, jadi ku ku tutup saja teleponnya.

Pagi-pagi setelah aku sampai kantor. Aku bertanya pada OB. Kantor tempatku bekerja memang mempekerjakan 1 OB, sebut saja ujang. Ku tebak usianya masih di bawahku.

Ujang setiap malam tidur di kantor tapi di kamar bagian belakang rumah, masih satu bangunan kamarnya sebelah ruang makan. Dan pintu yang masuk ke ruang kerja kami kalau malam selalu di kunci oleh temanku yang terakhir pulang. Jadi tidak mungkin ujang yang mencoba mengusiliku menggunakan telepon kantor.

Di ruang belakang juga tidak ada telepon. Sebetulnya aku malas bertanya karena alasan takut nanti jadi ditanya panjang lebar dan orang yang mengerjaiku jadi senang karena aku kepikiran.

Tapi aku sangat penasaran, jadi aku memutuskan bertanya pada ujang yg sedang sibuk beres-beres di dekatku.

“Jang, semalam pada pulang jam berapa?”

“Jam 8” jawab ujang.

Aku bertanya lagi, “yang terakhir pulang siapa?”

“Mas indra (nama samaran) sama mba lydia”. Jawab ujang sambil bekerja.

Mereka berdua memang pulang pergi bareng karena lydia tidak bisa naik motor dan nebeng Indra tiap pulang pergi ke kantor.

“Indra sama lydia pulang jam brp?” tanyaku.

“Jam 8an juga. Gak lama dari yg laen.” Jawab ujang.

“Kaga pada pulang malem mereka?” tanyaku penasaran (setahuku terkadang mereka atau salah satu pulang malam. Entah karena ada pekerjaan yang belum selesai atau ngobrol-ngobrol dikantor).

“kagak pak.” Jawab ujang.

“Yakin lu jang? Semalem lhoo?” tanyaku.

“Iya, semalem pada pulang jam 8an. Emang kenapa pak?” ujar ujang.

“Gak apa-apa sih. Katanya mereka suka pulang melem?” jawabku ngeles supaya ujang tidak curiga.

“Iya kadang-kadang aja. Gak tiap hari. Tadi malem mah jam 8an udah pada pulang”. Jawabnya.

Aku mengangguk aja sambil pura-pura memasang ekspresi biasa saja, menyembunyikan pikiranku yang bingung.

Entah kejadian aneh atau si ujang berbohong karena sudah diberitahu yang mengerjaiku untuk menjawab seperti itu.

Lalu tidak berapa lama teman-teman sekantorku mulai berdatangan satu persatu. Kami berkumpul di meja makan. Seperti biasa ada yang sarapan atau minum kopi, karena pintu ke bagian dalam kantor belum dibuka, yang bawa kunci belum datang.

Saat kami berbincang dan ujang berjalan melewati kami, salah seorang temanku bertanya “Indra pulang jam berapa, jang?”

“Gak lama abis abang pulang.” Jawabnya sambil berjalan pergi.

Aku jadi tambah bingung serta curiga ku bertambah tapi seperti curiga yang ku buat-buat, lagi pula mereka memang sering bertanya yang belakangan pulang jam berapa.

Setelah ujang tidak terlihat. Aku pun bertanya pada temanku “Lah lu semalem pulang jam berapa bang?”

“Jam 8”. Jawabnya.

“semalem pada nyampe jam berapa yang laen?”

“Terakhir si Indra sama lydia. Kata ujang, kaga lama dari gue.” Ujar temanku.

Aku mengangguk-angguk dan kembali pura-pura seperti tidak ada yang terjadi. Akhirnya datanglah si Indra dan lydia dan terbukalah pintu masuk ke kantor.

Saat itu aku harus menelepone seseorang menyangkut masalah event yang akan dikerjakan oleh perusahaan tempatku bekerja.

Langsung ku ambil gagang telepon dan, ternyata tidak bisa dipake.

AKu tanyakan pada teman lain di ruangan. “Mba kok teleponnya kaga bisa?”

“Oh iya, belum gw buka. Bentar yak” Saat itulah baru ku tahu jika pada malam hari saat mereka meninggalkan kantor teleponnya akan di kunci.

Sudah bulan kedua aku bekerja baru tahu karena tidak pernah menggunakan telepon pagi-pagi dan yang selalu membuka kunci telepon ada di ruangan yang berbeda denganku atau memang aku saja yang kurang peduli.

Kebetulan yang membuka telepon adalah Lydia. Aku bertanya: “oh, kalo malem di kunci yak teleponnya?”

“iya. Sebelum pulang kita kunci dulu.” Jawabnya.

“Lha semalem pulang jam berapa mbak?” Tanyaku.

“Jam berapa yak?? Abis bang Rudi pulang kaga lama. Jam 8an kayanya.” Jawabnya.

“Yang terakhir pulang sapa mbak?” tanyaku penasaran.

“Gua ama Indra” jawabnya.

“Berarti yang kunci teleponnya mbak?” tanyaku.

“Iya. Emang kenapa?” tanyanya penasaran.

“kaga apa-apa” jawabku

“kenapa muka loe?” tanyanya.

Aku lupa menyembunyikan muka bingung ku. “kagak” jawabku.

Kemudian mbak Rina yangg berada di dekat kami pun menimpali. “Iya. Kenapa muka loe??”

“Kenapa emang muka gua?” tanyaku

“kayak lagi mikir” ujar mereka.

Akhirnya aku coba menceritakan kejadian yang ku alami tentang telepon yang beberapa kali masuk ke hp ku.

“Ahhh, serius lu??” tanya rina.

“Emang muka gua kaya lagi becanda mba?” jawabku.

“kagak sih. Tapi lu kan biasanya kagak pernah serius” ujar rina.

“kali ini gue serius mbak.” Jawabku menegaskan.

Lydia: “tapi kan gue ama Indra yang terakhir pulang. Kita pulang jam 8.” Ujar Lidya.

“Apa semalem ada orang kesini setelah kalian pulang? Atau si ujang yang telepon gue?” tanyaku.

“kagak mungkin ada orang lain. Kunci kantor kan semalem cuma gue yang pegang. Kecuali si bos, tapi ngapain juga dia isengin lu? si ujang juga gak mungkin. Dia kagak megang kunci pintu masuk ke dalem. Lagian dia kagak tau juga cara buka telepon” jawab lidya.

“Lha, terus siapa yang telepon gue?” tanyaku.

“Lu yakin ada telepon masuk dari kantor?” tanya rina.

“Yakinlah mbak.” Jawabku.

“jam berape?” tanya rina.

“sekitar jam 10 malem.” Jawabku.

Lalu ku buka hp dan ku tunjukan pada mereka bukti daftar panggilan masuk dari no kantor, yang ku simpan dengan nama office ****** (maaf nama kantor tidak saya sebutkan).

“Ini mbak, office ****** jam 10 malam.” Ujarku.

“Ih beneran lu, ih merinding gue ah” ujar Rina yang ketakutan.

Karena kejadian itu. Aku pun menceritakan kepada ibuku, apa saja yang sudah ku alami. Lalu ibu menyarankan supaya aku menghubungi guru spiritual keluarga kami.

Baca juga :

Perjalanan Dinas 1

Akhirnya ku hubungi orang yang kami sebut Abah. Ku ceritakan semua kejadian tersebut.

“Jangan takut. Itu yang momong (menjaga) kamu. Dia lagi nunjukin ke kamu kalo dia ada aja. Setelah telepon Abah aku tidak pernah mengalami kejadian aneh-aneh lagi. Tapi masih merasa sering diperhatikan dan merinding dan seperti ada yang mengajak ku bicara dan aku juga menjawabnya.

Parahnya itu setiap hari bahkan ketika aku sedang kumpul bersama teman-teman kantor untuk makan atau ngobrol sambil minum kopi pun aku seperti ada yang mengajak bicara. Entah itu hanya halusinasi saja atau apalah tapi itu benar-benar mengusikku.

Dan setiap sholat pun aku selalu lupa sudah berapa rokaat. Meski sengaja ku hitung pasti tetap saja lupa.

Aku jadi merasa seperti orang gak waras, karena sering kali aku seperti berada di dalam duniaku sendiri. Dan aku jadi sensitif sering marah sendiri di rumah meski dikantor aku bisa tertawa menanggapi bullyan temanku.

Sampai aku harus konsultasi ke psikiater. Karena aku merasa ada yang tidak waras dalam diriku sendiri.

Akhirnya aku hanya bertahan tidak sampai 3 bulan bekerja disana. Aku malu apabila makin terlihat seperti orang gangguan jiwa yang larut dalam dunianya sendiri.

Sekian ceritaku. Maaf jika tidak menyeramkan seperti harapan kalian. Memang aku tidak bisa melihat makhluk tak kasat mata tapi aku sering bisa merasakan hal-hal tidak beres, atau seperti kehadirannya, dan juga sering mendengar suara-suara aneh.

Dari masih sekolah aku sangat peka dengan hal-hal seperti itu atau sering kali jika akan terjadi sesuatu aku mendapat firasat.

Dan guru spiritualku juga pernah menanggapi curhatan ibuku tentang apa yg ku alami dari sejak aku masih sekolah.

Beliau menjawab sebenarnya anak-anak ibu (aku dan abang) memiliki kepekaan yang tajam seharusnya mereka di asah di pondok pesantren tapi harus mendapat bimbingan dan pengawasan langsung dari Kyai nya.

Insya Allah ada yang akan lebih tajam kemampuannya jika terus di asah. Haaaaahhhhh…. sayangnya aku hanyalah anak bandel yang tidak menuruti nasehat Pak Kyai.

Jadi aku cuma bisa seperti ini dan sering kali saat hal-hal tersebut menghampiri aku tidak memiliki cukup ilmu untuk membuat semuanya baik-baik saja.

Terima kasih untuk admin yang sudah mau memposting ceritaku tentang telepon dari kantor pada malam hari dan teman-teman yang sudah mau membaca hingga selesai.

Terima kasih banyak semua. Semoga kalian selalu berada dalam lindungan Tuhan. Amin.

N.B : pengalaman seram tentang telepon dari kantor pada malam hari ini dikirim oleh Ada Lesta. Jika ingin berbagi pengalaman seram dalam hidup anda, silahkan kirim cerita anda melalui form kirim cerita.

Suka dengan cerita horor telepon dari kantor pada malam hari di blog ini?

Silahkan klik disini untuk berlangganan dan dapatkan bonus ebook cerita hantu yang lebih mencekam secara gratis.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.