Teror Berantai 1

Hari itu adalah hari yang super sibuk bagi ane, dari pagi hingga waktunya bubaran kerjaan ane belum juga beres. “Waduh lembur lagi nih” pikir ane, ane pun sejenak melemaskan seluruh otot yang ada di badan sambil bersandar pada sandaran kursi dengan pasrah menatap monitor dan mencoba membalas sapaan rekan satu ruangan yang pamitan pulang.

“Kriing..kriing..kriing..” dengan kaget ane keluar dari lamunan, “halo” jawab ane dengan lemas.”woyy bro, lemes banget sih” suara mas edy yang terdengar semangat. “Ada apa? Gw lagi sumpek nih kerjaan gak kelar-kelar” jawab ane dengan ketus. “Udah tenang aja, ntar gw temenin. Tim audit juga lembur hari ini” jawab mas edy menghibur ane. “Kapan sih audit gak lembur” jawab ane nyindir. “Udah ayo kita cari makan dulu di bawah, ini cacingnya arif udah pada sakit perut nagih makanan” ajak mas edy. “Ya udah gw kesana” jawab ane sambil menutup telepon.

Ane pun menyeret kaki yang tak bertenaga menuju cubical mas edy, berjalan dengan enteng tanpa memperdulikan sekeliling dengan wajah polos kelelahan serasa diiringi irama lagu regae ala bob marley. “Come on bro, I need new atmosphere now” ajak ane sambil bersandar dan menaikan salah satu alis seolah-olah merasa sok cool. “TEAM! Let’s go.” Ajak mas edy ke tim nya (timnya cuma sisa adit dan arif, yang lainnya mundur karena seleksi alam).

Kami berempat pun berjalan perlahan dengan langkah yang sama dan berirama seolah-olah ada komando aba-aba “kiri..kanan..kiri..”. Setelah melewati pintu ruangan, terasa semilir angin menerpa wajah kami dan menguraikan rambut kami bak sinetron (kecuali mas edy karena kepalanya botak plontos) dan beriringan dengan langkah kami terdengar suara petikan jari disambung oleh senandung “Nan yi wang ji chu ci jian ni…” sudah tak bisa dihindari lagi karena alunan soundtrack meteor garden itu mau gak mau kami merasa bagaikan jelmaan dari F4.
teror berantai hantu menyeramkan
mungkin seperti ini gaya kami waktu itu (walaupun harapan dan kenyataan itu bagaikan langit dan bumi)

“Triing…” pintu lift terbuka dan kami pun masuk kedalam tanpa suara dan cengengesan diantara kami. Entah mengapa di dalam lift itu kami hanya berempat tapi serasa sumpek sekali dan hawanya menjadi panas. Mas edy terdiam dan sesekali terbatuk-batuk. Adit mengetuk-ngetukan jarinya ke dinding lift seolah-solah mendengarkan musik padahal waktu itu dia sedang tidak memakai headset (gagal move on dari efek lagu meteor garden).

Sedangkan arif cuma cilingak-cilinguk sambil mengipas-ngipas tangannya karena hawa yang panas dan kemudian membuka satu kancing bajunya yang seketika itu bulu dadanya yang bagaikan sapu ijuk itu nongol seolah-olah ingin say hello pada kami. Dan ane cuma bisa mengipas-ngipaskan tangan agar tak terlalu panas sambil meniup kepala botak mas edy yang mulai meneteskan keringat.

Semakin kami turun ke lobby melalui lift, semakin menjadi panas hawanya. Dan tanpa aba-aba mas edy segera menekan tombol pintu lift agar terbuka “triing..” kami pun keluar. Bagaikan belum minum 1 tahun kemudian menjadi lega setelah meminum seteguk air dingin, itulah yang kami rasakan setelah dinginnya semilir angin sepoi-sepoi menerpa kami. “Kita lewat tangga darurat aja biar enak” ajak mas edy. Tanpa argumen kami pun mengikuti mas edy. Setelah sampai di lobby, kami pun segera menuju luar gedung mencari makanan.

Kami merasa tidak ada yang aneh saat itu tapi mengapa seorang satpam yang berjaga di lobby tersenyum-senyum melihat kami, “mungkin terpesona lihat bulu dada arif” pikir ane. Kami pun menyantap dengan lahap makanan yang kami beli dari PKL yang ada didepan gedung kantor tanpa pikiran apapun seolah-seolah hidup tak pernah ada masalah. Bahkan suara knalpot motor, klakson mobil dan teriakan kondektur bus kopaja pun tak terdengar oleh kami.

Selesai menikmati makanan, kami pun kembali ke kantor. Saat melewati lobby, satpam yang sebelumnya tersenyum pada kami karena terpesona dengan bulu dadanya arif pun memberanikan menyapa kami. “Kok jadi berempat pak? Yang lainnya udah pulang?” Tanya satpam itu (sambil sesekali melirik ke arif yang ane bayangin dia melihat dadanya arif). “Kita emang berempat kok pak, emangnya ada yang lain?” Tanya adit dengan muka penasaran. “Tadi kan keluar dari liftnya banyakan pak, ada mungkin 12 orangan” jawab satpam itu dengan wajah serius. ” tapi dari tadi….” belum selesai adit bicara tiba-tiba langsung dipotong oleh mas edy “oke pak, kami ke atas dulu ya, mari pak” mas edy menarik adit menuju lift.

“emang selain kita berempat ada orang lain di lift tadi pak?” Tanya adit penasaran. “Cuma ada empat ORANG kok” jawab mas edy. “Ahh mabuk AC tu satpam kayaknya jadi liat kita masing-masing jadi 3” jawab adit dengan ketus. Setelah sampai di ruangan, kamipun tak langsung melanjutkan pekerjaan masing-masing melainkan duduk bersantai dulu. “Tapi tadi pak satpamnya keliatan serius lo nanyanya” arif membuka pembicaraan. “Iya serius liat bulu dada lo tu” jawab ane nyindir. “Eits bisa aja bapak ini” jawab arif yang mukanya memerah sambil memegang dadanya. Kami pun serentak tertawa bersama.

Belum selesai kami tertawa, tiba-tiba terdengar suara “buuk” kami pun reflek menoleh ternyata sebuah kardus gede terlempar (dilempar atau jatuh kami tidak tau saat itu, kami hanya melihat dus itu dari atas menggelinding ke lantai). Kebetulan disebelah cubical tim audit (lokasinya paling pojok dari cubical divisi lain) merupakan lahan kosong yang kami jadikan gudang atau tempat penyimpanan berbagai barang.

Kami semua berpikir positif mungkin dus itu terjatuh karena posisinya tidak pas “bikin kaget aja tu kardus” kata adit. “Tadi di lift kita memang berempat, tapi banyak mahluk lainnya, setiap turun 1 lantai jumlah mereka bertambah makanya semakin panas tadi” mas edy menjelaskan dengan serius. “Masa sih pak?” Tanya arif. “Yang dibilang satpam tadi benar, tadi banyak yang ikutin kita, cuma mereka berpencar setelah kita keluar lift dan sisanya ngikutin kita tapi langsung berpencar setelah kita keluar dari loby. Tadi gw ajak keluar di lantai 3 karena kalo sampai di lanti 1 gak tau jumlah mereka udah berapa”. Mas edi menjelaskan.

“Ayo pak kita basmi aja mereka, seneng banget gangguin orang” jawab adit sok berani. “Ehh adit, hati-hati bicaranya nanti mereka dengar bahaya” arif menjawab dengan nada kesal. “Udah tenang aja, gw sikat semua ntar” jawab adit sambil menepuk dadanya. “Tu kardus tadi di dorong dari atas lemari karena kita ketawa-ketawa tadi” mas edy menjelaskan lagi. “Kalo berani sini keluar jangan beraninya bikin kaget” teriak adit sok berani. “Eh lo jangan sok berani kalo gak tau siapa tu mahluk” kata ane yang jadi parno denger suara adit menantang.

Baru selesai ane bicara, tampak samar-samar di pojok gudang terlihat sosok yang berjalan ke arah kami. Semakin dekat semakin jelas, dan sosok itu adalah sosok yang sudah ane kenal, berjenis kelamin wanita (mungkin) dialah yang ane sebut simerah. “Hi..hi..hi..hi…” ia tertawa setelah berdiri dengan jarak kira-kira 5 meter dari kami. Arif pun menutup matanya sambil berteriak “aaaahhhhkkk..adit gobl*k kamu nantang-nantang mereka.

Kami semua terpaku dan tidak bisa kemana-mana karena sosok itu muncul dengan cepat. Ane yang bingung harus bagaimana namun tidak begitu takut saat itu reflek menendang kursi adit sambil berkata “sikat sana dit”. Adit terjengkang kedepan dan jatuh tepat di depan simerah. Dengan segera mas edy berdiri dan berkata “pergi kamu” dengan nada mengusir. Sosok itu pun pergi dengan cara mundur kebelakang (kalo michael jackson pasti moonwalk) sambil tertawa “hi..hi..hi…”.

Kemudian dengan segera mas edy mengangkat adit yang saat itu diem bersujut sambil menutup mukanya. “Bangun dit, udah pergi dia” kata mas edy sambil menarik adit. “Hahahahaha” ane dan arif pun tertawa terbahak-bahak karena melihat celana adit yang basah (adit mengompol di celana). “Sorry ya dit, tadi gw reflek nendang kursi lo kirain lo berani tadi sama simerah” kata ane sambil memegang pundaknya. “Hahahaha” kami semua tertawa kecuali adit yang mukanya pucat karena masih shock. Kami tertawa sekeras-kerasnya seolah-olah tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Sedang asyik tertawa tiba-tiba “duk duk duk…duk duk duk” kami semua reflek menoleh ke pintu ruangan yang terbuat dari kaca. Dan kami semua terdiam shock dengan wajah pucat.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.