Teror Berantai 2

“Duk duk duk…duk duk duk” terdengar suara orang menggedor pintu ruangan yang terbuat dari kaca. Sedang asyik tertawa terbahak-bahak, kami semua menoleh ke sumber suara itu. Dengan seketika wajah kami yang tersenyum penuh kegembiraan berubah menjadi pucat melihat seseorang yang berdiri dibalik pintu kaca sambil menggedor pintu itu.

“Duk duk duk…duk duk duk” dengan mata yang melotot seakan sangat marah sama kami dan wajahnya yang keriput nan pucat terus menatap kami. Itu adalah sosok baru yang belum pernah ane lihat sebelumnya. Seorang kakek tua dengan baju putih lusuh dan perawakan yang kurus (mungkin sosoknya itu seperti kakek berumur 80 tahun). Kami yang ketakutan dengan sosok itu langsung memeluk mas edy.

Saat itu ane merasakan kakinya mas edy gemetaran karena melihat sosok itu. Namun tak lama sosok itu menghilang setelah terdengar suara orang menggebrak meja di ujung ruangan “braak”. “Ayo pak pulang” pinta adit dengan wajah ketakutan. “Kalo kita pulang gimana nih persiapan buat meeting besok?” Jawab mas edy.”gw juga belum kelar kerjaan, besok udah gak ada waktu” sambung ane.

Rencana besok pagi ada jadwal meeting tim hrd dan audit dengan direktur utama mengenai masalah di salah satu cabang perusahaan jadi mau gak mau semua data harus sudah siap. “Kita harus nginap di sini kayaknya biar besok kita udah siap meeting, bagaimana broo?” Tanya mas edy sama ane. “Oke pak gak masalah, mau gimana lagi soalnya kalo gak nginep besok pasti abis kita” jawab ane serius (kami lebih takut berurusan dengan Dirut tentang kesiapan data daripada bertemu dengan mahluk-mahluk yang lucu di ruangan kami).

” tapi pak…nanti tidur dimana?” Tanya adit. “Udah gampang, kalo tidur bisa dimana aja, kalo mandi kan bisa di ruangan GM (General manager)” jawab ane. “Gw tau lo takut, kami juga sama, tapi mau gak mau harus kita lewati biar besok aman” jawab mas edy.

Singkat cerita kami pun memutuskan untuk menginap, dan kami mengerjakan tugas masing-masing di cubical ane karena lebih luas dan kebetulan di samping cubical ane adalah cubical divisi legal (banyak makanan dan aneka kopi, kalo buat bertahan hidup pasti halal, hehe..).

Tidak terasa kami bekerja hingga jam 11an dan tidak ada gangguan apapun walaupun kenyamanan itu tidak bertahan lama. “Hehehe” suara anak kecil tertawa, kami semua terdiam. Tiba-tiba di depan cubical ane ada beberapa anak kecil sedang berlari-lari, mereka semua berwarna hitam gelap.

Salah satu dari mereka menoleh pada kami. Bukannya takut tapi merasa aneh karena wajah mereka yang tidak jelas dan tidak simetris. Matanya memang dua tapi posisinya tidak seperti manusia pada umumnya. Satu mata posisinya di hidung dan yang satu lagi di posisi jidat. Telinga satu di posisi mata kiri dan begitu juga indera lainnya yang tidak pada posisinya. Kami pun cuek dengan anak-anak itu.

Tidak lama setelah berusaha cuek, tiba-tiba “heyy” seorang kakek berteriak dan berdiri tepat di pojok luar cubical. Wajahnya yang pucat itu sangat mengagetkan kami. Tak lama munculah sosok simerah di ujung lorong ruangan sambil tertawa “hihihihi”. Ia datang dengan melayang-layang di udara. “Wah reunian” pikir ane saat itu. Dan tiba-tiba muncul sosok sibuntung yang menenteng kepalanya. Ia berdiri tepat di cubical tim legal.

Entah kenapa waktu itu kami sangat cuek dan tidak begitu takut melihat mereka. Walaupun saat mereka muncul kami cuma bisa menutup mata berharap mereka segera menghilang. Sosok kakek itu menurut mas edy berasal dari ruangan sebelah (di sebelah ruangan kami masih ada ruangan divisi lain karena gedung kami terdiri dari dua tower yang terhubung). Dia datang karena penasaran dengan kami. Tapi sibuntung dan simerah gak terima wilayahnya dimasuki sosok lain. “Pak tolooong…” teriak arif saat simerah berdiri 2 meter di sampingnya.
teror berantai

Catatan: pengalaman kali ini tidak bisa ane ceritakan dengan detail karena fokus ane pada kerjaan yang belum beres. Ane menulis cerita ini dan menguploadnya saat ada waktu senggang. Semoga cerita ini masih bisa memberikan suasana mistis bagi para pembaca semua.

2 comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.