Teror Berantai 3

“Pak tolooong…” teriak arif. Kami cuma bisa menatap sosok merah berdiri kira-kira 2 meter di samping arif dengan wajah seakan marah penuh dendam. Adit pun langsung menutup wajahnya karena ketakutan. Mas edy pun diam tak bergerak tak berani mengusirnya karena tampak wajah sosok itu yang sangat marah. Arif segera menutup wajahnya karena sudah sangat ketakutan hingga kakinya lemas dan gemetar (menurut pengakuan arif).

Tak lama setelah itu simerah pun hilang entah kemana, dan tidak ada lagi gangguan berarti setelah itu. Kami dengan leluasa bisa menyelesaikan tugas-tugas kami. “Akhirnya kelar juga, tinggak besok siapin mental buat diobrak-abrik sama boz” kata ane sambil meregangkan otot karena lega dan senang tugas sudah selesai. Tak beberapa lama tim audit pun selesai “hore beres juga” kata arif berteriak dengan gembira seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu sebelumnya.

“Udah ayo tidur, besok siap tempur” kata mas edy sambil menarik meja kosong untuk tidur. Singkat cerita, ane tidur-tiduran di atas kursi yang ane satuin. Arif tiduran di meja dengan posisi duduk. Sedangkan adit tiduran di atas kardus bekas yang digelar di lantai. Saat itu kami sangat menikmati bermalam di kantor karena sangat nyaman berkumpul dengan teman-teman tanpa gangguan apapun, tapi ternyata kenyamanan itu tidak bertahan lama.

Saat suasanya menjadi sepi dan hanya terdengar suara aneh “ngrook…ngroook..” yang setelah dicari ternyata suara mas edy yang sedang mendengkur dan ane pun mulai terlelap dalam dinginnya malam. “Duuk…Adooh” suara adit berteriak membangunkan ane. “Ada apa dit?” Tanya ane. “Siapa nih yang jail angkat kepala ane terus di banting?” Tanya adit. “Ah lo mimpi kali, siapa yang mau jailin lo. Liat aja tu arif tidur gitu apalagi mas edy ngorok gitu” jawab ane sambil mendengarkan merdunya suara dengkuran mas edy “ngrook..ngrook..” . “Udah tidur lagi” suruh ane.

Belum lama ane tiduran tiba-tiba kaki ane terangkat dan seperti ditarik dan “buukk” ane terjatuh. Ane terjatuh ke lantai dan sakitnya tuh disini, pinggang ane terasa nyilu sambil memegang pinggang ane mengerang “aduuh”. Sedang mengerang kesakitan tiba-tiba “buuuuk” mas edy terjatuh dari atas meja “wadoohh biyuuung…kepalaku lecet” mas edy mengeluh karena saat jatuh karena kepala botaknya terkena lantai.

“Gak lucu nih bercandanya” kata mas edy sambil mengelus kepalanya. Adit yang tertidur pun terbangun dan arif pun terbangun sambil mengusap tetesan air yang menetes dari mulutnya. “Siapa yang bercanda mas” tanya adit. Ada yang dorong gw nih” jawab mas edy. “Iya nih kaki gw juga ada yang narik” sambung ane. Saat kami saling menatap satu sama lain keheranan tiba-tiba “duuk..aduh” suara arif saat dengan jelas ane lihat kepalanya seperti dibenturkan ke pembatas cubical.

Dan seperti gumpalan asap putih tipis dan transparan berkumpul diluar cubical dan seketika berubah wujud menjadi sosok kakek-kakek dengan wajah pucat seperti mayat dan melotot tajam seperti penuh dendam. Arif yang duduk paling dekat dengan sosok itu pun langsung loncat dari kursinya dan memeluk adit yang sedang duduk di lantai.

Entah mengapa kami semua menatap wajah kakek itu dan berteriak bersama “aaaaakkhh” mungkin seperti anak alay tapi ane pengen teriak karena memang wajah kakek itu sangat menyeramkan dan saat ane teriak semua juga teriak. Setelah berteriak ane menutup mata dan setelah mengintip sedikit ternyata sosok itu telah menghilang.

“Udah ilang dia” kata ane ke tim audit yang juga menutup mata. Tapi ada yang aneh saat itu, arif dan adit saling berpelukan dengan erat sambil memejamkan mata. Saat itu ane masih sangat shock dan tidak bisa berpikir yang lain, tapi ane gak tau apa yang dipikirkan mas edy saat itu “ciee pelukan cieee…cinta memang buta” sahut mas edy sambil mencolek adit dan arif.

Entah mengapa saat itu mas edy masih sempat bercanda disaat jantung hampir pindah ke kepala gara-gara si kakek dengan wajah pucat. “Gak pak, gak sengaja” jawab arif dengan wajah memerah. “Aduh pak jangan bercanda donk, gak lucu” jawab adit dengan wajah masih shock. Belum selesai ane menarik nafas tiba-tiba map di atas meja terlempar dan muncul sosok kakek itu berdiri di belakang mas edy.

“Hihihihi” disaat bersamaan muncul simerah dari arah depan sambil melayang. Dan di ujung lorong dekat cubical audit terhilat samar-samar sesorang berdiri tanpa kepala. Dan seketika kakek dan sosok tanpa kepala itu menghilang dan hanya sosok simerah yang masih melayang di langit-langit sambil tersenyum pada kami. Ane langsung tidur tengkurap di lantai sambil menutup mata dan ternyata mereka mengikuti termasuk mas edy.

Karena ane tidur ditengah antara arif dan mas edy, ane merasakan kaki mas edy mendorong kaki arif sambil berkata “rif..rif..tuh kan dia melayangg coba lo intip dari bawah, celana dalamnya merah juga gak”. ” bapak aja liat sana sendiri” jawab arif sambil menendang balik kaki mas edy. “Oii..itu setan bukan ketan” teriak adit yang kesel sama arif dan mas edy yang sempetnya bercanda di saat seperti itu. Kami terdiam tanpa suara dan tanpa ingin tau apakah sosok itu masih ada atau tidak ternyata kami ketiduran hingga pagi. Kami tertidur nyenyak tanpa gangguan lagi. Kata mas edy sikakek itu sudah diusir sama simerah dan sibuntung.

“Rif gimana semalam? Enak kan?” Tanya mas edy di pagi hari. “Enak apanya pak?” Tanya arif. “Tadi malam kita berdua ehem ehem, ancuok kito (kimpoi kita)” jawab mas edy sambil mempraktekan dengan tangannya. “Ehh apa bapak ini, otak kumuah (otak kotor)..caruik (kata kotor)” jawab arif sambil berlari memegang pantatnya.

“kasian tu anak lo gangguin terus broo” kata ane membela arif. “Abis seru dia tu kalo di gangguin gitu padangnya keluar lucu” jawab mas edy sambil cengengesan. Kami pun mempersiapkan diri untuk rapat.

Begitulah kejadian semalam berlalu tanpa dibahas. Menurut kami wajar jika takut saat bertemu mereka karena wajah mereka yang seram, tapi jika sudah lewat maka biarkanlah berlalu. Sesuai prinsip kami “kesusahan hari ini biarkanlah untuk hari ini saja, kesusahan esok ada bagiannya sendiri”. Sangat menyenangkan disaat takut pun kami masih bisa tertawa

seram

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.